Kasmanto's Weblog

PTK kas

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kegiatan Belajar Mengajar siswa adalah suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai faktor baik internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi usia, kematangan siswa, kecerdasan, motivasi dan bakat. Faktor eksternal meliputi kemampuan mengajar guru, fasilitas belajar, lingkungan belajar di rumah dan di sekolah. ( Wahyudi, 2003 ). Proses kegiatan belajar mengajar atau pembelajaran akan menjadi efektif jika terjadi sinergi dan berkesinambungan antara faktor-faktor tersebut. Pembelajaran akan berhasil secara optimal jika kemampuan guru dalam mengajar yang baik dan profesional, Mengajar dalam artian luas adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur berbagai sumber daya lingkungan dan menghubungkannya dengan kepentingan anak sehingga terjadinya proses belajar. ( DR. Dadi Permadi, M.ED, 1999 ) dengan dukungan dari beberapa fasilitas dan lingkungan pembelajaran di kelas yang kondusif, disertai dengan motivasi yang tinggi dari siswa/siswinya dan juga pengajarnya.
Tugas guru dalam operasionalnya lebih banyak menekankan pada aspek mental. Oleh karena itu untuk dapat menjalankan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya, seorang guru harus memahami betul tentang apa yang terjadi dengan proses ajar dan bagaimana ia memainkan peranannya agar proses tersebut terarah pada tujuan yang hendak dicapai. Aktivitas guru dituntut untuk menguasai berbagai teori tentang belajar dan model-model mengajar. Sehingga akan lebih besar kemungkinan baginya untuk mempertimbangkan tindakan yang bagi kepentingan pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Dan kecakapan seorang guru tidak hanya diukur dari kemampuan menyampaikan dan menguasai materi pelajaran atau menyiapkan perangkat-perangkat media yang diperlukan, akan tetapi juga kemampuan menciptakan kondisi belajar atau iklim kelas yang kondusif bagi terwujudnya proses pembelajaran yang optimal. ( Reigeluth dan Merril, 1978 dalam Aunurrahman, 1998 ).
Dalam hal ini, guru harus mengembangkan potensinya untuk menciptakan suatu kondisi belajar yang tepat dan positif bagi siswanya, agar siswa dapat belajar dalam suasana kelas yang baik, tenang, dan harmonis. Salah satu faktor keberhasilan belajar siswa di kelas akan dipengaruhi oleh faktor suasana kelas yang berhasil diciptakan oleh guru. ( Soemoenar, 1991 ).

Berbagai macam kajian mengenai iklim kelas telah dilakukan di Negara-negara maju seperti di Inggris, Amerika, maupun Australia dan dunia berkembang lainnya dan salah satunya ke negara Asia termasuk Indonesia. Dan berdasarkan penelitian-penelitian tersebut diketahui bahwa iklim kelas berkorelasi besar terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian mengenai iklim kelas di Indonesia masih sedikit jumlahnya. Hal ini menandakan bahwa konsep pentingnya lingkungan pembelajaran dalam menciptakan proses pembelajaran yang efektif belum mendapat prioritas. Dengan mengingat pentingnya lingkungan pembelajaran di kelas terhadap berhasilnya proses hasil pembelajaran siswa, maka diperlukan usaha untuk menciptakan iklim kelas yang kondusif, sehingga hasil yang didapatkan bisa meningkatkan motivasi belajar siswa dengan peningkatan motivasi ini akan menyebabkan hasil pembelajaran menjadi maksimal/optimal.
Dari hasil wawancara dengan siswa yang dilakukan saat penelitian awal ( pra siklus ) tanggal 7 dan 14 Agustus 2009 pada Kelas XI TR ( Typo Repro ) Semester III di SMK Negeri 7 Jakarta, dapat disimpulkan bahwa kelas ini memiliki motivasi belajar bidang studi Fisika yang cukup. Hal ini terlihat dari suasana kelas yang ribut pada saat pembelajaran Fisika berlangsung dan kurangnya keterlibatan siswa dalam pem belajaran.
Selanjutnya untuk mengetahui iklim Kelas XI TR semester III di SMK Negeri 7 Jakarta, digunakan instrumen iklim kelas modifikasi WIHIC ( What Is Happening In This Class ), sedangkan motivasi belajar Fisika siswa sebelum penelitian diketahui dari hasil angket instrumen motivasi belajar siswa. Setelah dilakukan analisis data iklim kelas dan motivasi belajar Fisika siswa, diketahui bahwa motivasi belajar Fisika Kelas XI TR Semester III adalah cukup. Hal ini dikarenakan berbagai faktor yang diantaranya adalah beberapa aspek dari iklim kelas yang kurang mendukung untuk kegiatan belajar mengajar. Aspek-aspek tersebut antara lain sarana/prasarana sekolah, aturan dan organisasi/manajemen, kekompakan siswa dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Agar motivasi belajar Fisika meningkat, maka diperlukan tindakan untuk melakukan perbaikan terhadap aspek-aspek iklim kelas tersebut, agar sesuai dengan keinginan siswa. jika siswa belajar sesuai dengan iklim kelas yang diinginkan siswa itu sendiri, mereka ( siswa ) akan termotivasi untuk meningkatkan proses belajarnya sehingga prestasi belajar mereka hasilnya akan jauh lebih baik.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka dapat di identifikasi masalah-masalah sebagai berikut :
1. Faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa bidang studi Fisika, untuk siswa Kelas XI TR semester III di SMK Negeri 7 Jakarta ?
2. Apa yang harus dilakukan oleh guru bidang studi fisika untuk menciptakan iklim kelas yang kondusif, sehingga siswa dapat termotivasi untuk belajar lebih giat dibidang studi Fisika ?
3. Bagaimana perbedaan selanjutnya antara iklim Kelas XI TR Semester III SMK Negeri 7 Jakarta, sebelum dan sesudah penelitian dilakukan ?
4. Apakah dengan memperbaiki Iklim Kelas dapat meningkatkan motivasi belajar Fisika siswa Kelas XI TR Semester III di SMK Negeri 7 Jakarta ?
5. Bagaimana memperbaiki iklim kelas untuk meningkatkan motivasi belajar bidang studi Fisika pada siswa Kelas XI TR semester III SMK Negeri 7 Jakarta.
C. Pembatasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada perbaikan iklim kelas untuk meningkatkan motivasi belajar Fisika siswa Kelas XI TR Semester III di SMK Negeri 7 Jakarta Timur.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah, maka dirumuskan masalah sebagai berikut : “ Bagaimana melakukan perbaikan iklim kelas untuk meningkatkan motivasi belajar Fisika siswa Kelas XI TR Semester III di SMK Negeri 7 Jakarta ? ”

E. Tujuan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini bertujuan melakukan perbaikan iklim kelas untuk meningkatkan motivasi belajar bidang studi Fisika siswa Kelas XI TR Semester III di SMK Negeri 7 Jakarta.

F. Manfaat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini bermanfaat untuk :
1. Guru bidang studi, yaitu untuk mencari informasi mengenai perbaikan iklim kelas, sebagai salah satu alternatif solusi dalam memecahkan masalah proses pembelajaran bidang studi Fisika di SMK.
2. Sebagai model peningkatan motivasi belajar siswa melalui perbaikan iklim kelas.
3. Untuk meningkatkan kwalitas dan kemampuan daya serap siswa terhadap bidang studi fisika agar lebih baik.
4. Sebagai rujukan untuk memperbaiki kinerja dalam proses pembelajaran dalam meningkatkan mutu pendidikan dan hubungan yang baik antara guru dengan siswa.
5. Penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu syarat untuk kenaikan pangkat atau golongan IV/a ke golongan IV/b bagi Guru PNS dan menjadi rujukan bagi peneliti berikutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Tinjauan Pustaka
1. Iklim Kelas
Kata Iklim kelas diambil dari terminologi bahasa Inggris disebut Classroom Climate. Climate dapat diterjemahkan sebagai iklim seperti feel, atmosfer, tone, culture dan environment. Climate as the general feeling, group sub-culture on interactive life in the school. ( Nwankwo ,1979 dalam Soemoenar, 1991 ). Dengan menggunakan istilah lingkungan kelas ( Classroom environment ), iklim kelas adalah situasi sosial informal dan aktivitas guru kelas yang secara spontanitas mempengaruhi tingkah laku. ( Hoy & Forysth,1986 dalam Sutjipto, 2002 ). Iklim kelas juga dapat didefinisikan sebagai seperangkat tingkah laku persepsi, dan respon afektif di antara peserta didik yang berkaitan dengan proses belajar mengajar di kelas. ( Zahn, Kagan dan Widaman,1986 dalam Hadiyanto, 2000 ).
Dari beberapa data dan berdasarkan beberapa pengertian iklim kelas di atas dapat disimpulkan bahwa iklim kelas adalah segala situasi yang muncul akibat hubungan guru dengan peserta didik atau hubungan antar peserta didik yang menjadi ciri khusus dari kelas dan mempengaruhi proses belajar mengajar. ( Hadiyanto, 2004 ). Dapat dikatakan bahwa setiap kelas akan memiliki iklim atau atmosfer kelas yang berbeda-beda. Iklim kelas melibatkan banyak faktor dan variabel yang mempengaruhinya yang menjadikan suatu kelas sebagai suatu lingkungan sosial yang unik. Keunikan ini pada umumnya didasarkan pada latar belakang siswa yang berbeda-beda. Misalnya sosial ekonomi, intelijensi, kebudayaan dan minat. ( Soemoenar, 1991 ).
Para siswa/peserta didik melakukan atau tidak melakukan sesuatu dapat dipengaruhi oleh lingkungan di mana mereka berada atau belajar. Tingkah laku merupakan akibat dari interaksi antara lingkungan dan kepribadian sebagai faktor yang membentuk tingkah laku peserta didik. ( Kurt Lewin, 1936 dalam Fisher , 1990 ) dan dituliskan dalam formula :
B = f ( P , E )
Dimana :
B = Behaviour ( tingkah laku )
f = Function ( fungsi )
P = Personality ( kepribadian )
E = Environment ( lingkungan )
Hubungan tersebut diatas menyatakan bahwa tingkah laku dipengaruhi oleh kepribadian dan lingkungan eksternal. Model ini disebut need-press model ( model kebutuhan lingkungan ) yang dapat dianalogikan seperti halnya kepribadian dan lingkungan. Kebutuhan pribadi ( personal need ) mengacu pada karakteristik motivasi seseorang yang melukiskan kecenderungan seseorang untuk bertindak dalam suatu usaha untuk mencapai tujuan. Tekanan lingkungan ( environment press ) merupakan situasi eksternal yang dapat mendukung atau menghalangi usaha dalam mencapai tujuan. ( Murray,1938 dalam Fraser dan Walberg,1991 ).

Ada tiga dimensi umum iklim kelas yang menjadi panutan para ahli pendidikan dalam mengembangkan iklim kelas. Ketiga dimensi tersebut adalah dimensi hubungan ( relationship ), pertumbuhan pribadi ( personal growth ) dan dimensi perubahan dan perbaikan system. ( system maintenance and change ) ( Moos, 1979 dalam Hadiyanto, 2000 ).
a. Dimensi hubungan ( relationship )
Dimana dimensi hubungan ( relationship ) mengungkap sejauh mana keterlibatan peserta didik dalam kelas, sejauh mana mereka saling membantu dan mendukung, dan sejauh mana mereka memperoleh kebebasan dalam mengemukakan pendapat. Dimensi ini juga berarti mencakup aspek afektif dari interaksi antara peserta didik dengan pendidik/Guru. Aspek-aspek yang termasuk dalam dimensi ini di antaranya adalah kekompakan ( cohesiveness ), kepuasan ( satisfaction ), keterlibatan ( involvement ).
b. Dimensi Pertumbuhan Pribadi ( personal growth )
Tujuan utama dimensi pertumbuhan pribadi ( personal growth ) adalah tentang keberadaan kelas sebagai organisasi dalam mendukung perkembangan dan pertumbuhan pribadi ( motivasi ) peserta didik. Yang mencakup aspek-aspek yang terkait dengan dimensi ini diantaranya adalah Kegiatan penyelidikan ( Investigation ), Arahan tugas dari guru ( Task Orientation ), Kerja sama siswa. ( Cooperation ).
c. Dimensi Perubahan dan Perbaikan Sistem ( system maintenance and change ).
Dimensi ini mengemukakan tentang sejauh mana lingkungan kelas mendukung harapan, memperbaiki kontrol, dan merespon perubahan. Dimana aspek-aspek yang termasuk dalam dimensi ini adalah Kesetaraan ( Equity ), Aturan dan Organisasi. ( Order and Organization ).
a. Perbaikan Iklim Kelas
Perbaikan iklim kelas melibatkan Guru sebagai Nara Sumber dan sekaligus manajer kelas, diharuskan dapat mengelola kelas dengan sebaik-baiknya agar tercipta iklim kelas yang kondusif, sehingga siswa dapat belajar secara maksimal/optimal. Beberapa pendekatan dilakukan dalam mengelola kelas, diantaranya pendekatan dengan berdasarkan suasana perasaan dan suasana social. ( socio-emotional climate approach ).
Dengan pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau suasana emosional dan hubungan sosial yang positif dalam kelas. Suasana emosional dan hubungan sosial yang positif, artinya ada hubungan baik yang positif antara guru/pendidik dan anak didik, atau antara anak didik dan anak didik. ( Djamarah dan Zain, 2002 ).
Ada 2 ( Dua ) asumsi pokok yang dipergunakan dalam pengelolaan kelas, berdasarkan pendekatan sosio-emosional. ( Djamarah dan Zain, 2002 ) antara lain sebagai berikut :
1) Iklim sosial dan emosional yang baik adalah dalam arti terdapat hubungan interpersonal yang harmonis antara guru dengan guru, guru dengan siswa dan siswa dengan siswa, merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif.
2) Iklim sosial dan emosional yang baik tergantung pada guru dalam usahanya melaksanakan kegiatan belajar mengajar, yang disadari dengan hubungan manusiawi yang efektif.
Melalui pendekatan sosio-emosional, maka iklim kelas yang kurang kondusif dapat diperbaiki. Instrumen iklim kelas digunakan untuk mengungkap persepsi siswa mengenai iklim kelas yang dialami dan diinginkan oleh siswa itu sendiri.
Iklim kelas adalah suasana sosio-psikologis kelas yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan siswa. Ber- dasarkan pemahaman ini, iklim kelas dapat diungkap dan diukur melalui persepsi siswa terhadap suasana kelas karena siswa adalah subjek yang benar-benar mengalami dan merasakan suasana kelas itu dalam waktu yang relatif lama. ( Hadiyanto, 2000 ).

Dan dengan mengetahui persepsi siswa mengenai iklim kelas yang dialami dan diinginkan siswa, dapat memudahkan guru dalam mengambil tindakan yang dilakukan guna memperbaiki iklim kelas sehingga terbentuk iklim kelas yang kondusif untuk belajar siswa. Iklim kelas yang kondusif antara lain dapat mendukung :
1) interaksi yang bermanfaat diantara siswa yang sedang belajar.
2) memperjelas pengalaman-pengalaman guru dan siswa.
3) menumbuhkan semangat yang memungkinkan kegiatan-kegiatan di kelas berlangsung dengan baik, dan
4) mendukung saling pengertian antara guru dan siswa. ( Hyman, 1980 dalam Hadiyanto, 2001 ).
Perbaikan iklim kelas dapat dilakukan melalui lima langkah. ( Fraser, Sedon dan Eagleson dalam Hadiyanto, 2004 ) yaitu :
1) Penilaian Awal ( Assesement )
Penilaian awal dilakukan dengan membagikan dua macam instrumen untuk mengungkap iklim kelas yang dialami siswa. ( Actual form ) dan iklim kelas yang diinginkan siswa. ( Preffered form ) kepada responden sebagai pre-test. Instrumen Actual Form dibagikan pertama, kemudian disusul instrumen Preffered form beberapa minggu berikutnya.

2) Umpan Balik ( Feed-back )
Setelah data dari penilaian awal diolah, hasil penelitian awal dianalisis baik actual form maupun preffered form. Apabila terdapat perbedaan yang sangat jauh, dan perbedaan tersebut berasal dari aspek tertentu, dapat dipikirkan perlunya langkah perubahan untuk mengurangi kesenjangan iklim kelas dengan memfokuskan pada sumber yang ditunjukkan oleh aspek yang dimaksud.
3) Refleksi dan Diskusi ( Reflection and discussion )
Pada tahap ini adalah tahapan diskusi antar pihak-pihak yang terkait seperti guru, wali kelas atau kepala sekolah dan stafnya tentang perlunya perbaikan iklim kelas. Pada tahapan ini dipilih aspek yang perlu diprioritaskan untuk diperbaiki dan aspek yang mana perlu dipertahankan sesuai dengan kebutuhan peserta didik saat itu dan direncanakan tindakan apa yang diperlukan untuk melakukan perbaikan terhadap aspek yang diprioritaskan untuk dirubah.

4) Campur Tangan Perbaikan ( Intervention )
Setelah diketahui tindakan yang diperlukan untuk merubah aspek yang diprioritaskan pada tahapan refleksi dan diskusi, maka tindakan perbaikan dilakukan dengan melibatkan pihak-pihak terkait seperti guru, staf sekolah, wali kelas dan siswa di kelas. Langkah ini membutuhkan waktu yang lama tergantung kebutuhan dan banyaknya aspek yang harus diubah.
5) Penilaian Ulang ( Reassesement )
Setelah langkah perbaikan dirasa cukup, lalu diberikan penilaian ulang dengan memberikan kembali actual form sebagai post-test. Hasil penelitian ulang ini kemudian dibandingkan dengan hasil penilaian awal. Apabila terdapat perubahan, dalam arti iklim kelas yang sebenarnya telah mendekati iklim kelas yang diinginkan siswa maka langkah perbaikan dapat dikatakan berhasil. Namun jika tidak terdapat perubahan maka perbaikan iklim kelas dinyatakan belum berhasil.
Penelitian perbaikan iklim kelas di Indonesia antara lain dilakukan oleh Sutjipto dan Hadiyanto pada tahun 2002. Penelitian dilakukan dengan menjalankan langkah-langkah perbaikan iklim kelas menggunakan instrumen My Class Inventory pada pendidikan dasar. ( Sutjipto, 2002 ).
Inisiatif perbaikan iklim kelas dapat dilakukan oleh guru kelas atau guru bidang studi, kepala sekolah dan beberapa stafnya atau supervisor pada jenjang manapun juga, guru bidang studi sejenis, wali kelas atau kepala sekolah dapat berkolaborasi untuk memperbaiki iklim kelas dengan melakukan tindakan-tindakan untuk mengubah aspek-aspek yang masih mempunyai perbedaan antara iklim kelas sebenarnya dan yang diinginkan. Tindakan-tindakan berdasarkan aspek-aspek yang dapat digunakan dalam melakukan perbaikan iklim kelas dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan dalam memperbaiki aspek-aspek iklim kelas.

Aspek Tindakan
Kekompakan
dan
Kerjasama 1. Menggunakan pendekatan Cooperative Learning dalam KBM. Cooperative LearnIng adalah system pengajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Cooperative Learning bertujuan untuk membina pembelajar dalam mengembangkan nilai dan kiat bekerja sama dan berinteraksi dengan pembelajar yang lainnya. ( Lie, 2002 ).
2. Cooperative Learning merupakan salah satu strategi guru dalam membelajarkan siswa dengan melibatkan mereka dalam kelompok kecil untuk melakukan aktivitas belajar guna meningkatkan interaksi yang positif. ( Hadiyanto, 2004 ).
3. Melibatkan siswa dalam pembelajaran berkelompok
Arahan Tugas dari Guru 1. Melakukan perbaikan system penilaian dimana penilaian terhadap siswa dilakukan lebih transparan yaitu dengan cara menjelaskan kepada siswa mengenai aspek-aspek yang akan dinilai oleh guru.
2. Penilaian yang dilakukan tidak hanya pada aspek kognitif / Pengetahuan, melainkan aspek afektif/sikap dan psikomotorik /keterampilan.
3. Pada saat akan diberikan tugas, guru bersama-sama dengan siswa membicarakan terlebih dahulu ( bermusyawarah ) mengenai tugas yang akan diberikan serta jangka waktu penyelesaian tugas tersebut. Dengan tindakan ini diharapkan siswa tidak mengalami kesulitan mengerjakan tugas yang diberikan.
4. Memberikan motivasi kepada siswa. Motivasi mendorong dan mengarah minat belajar untuk tercapai suatu tujuan sehingga siswa akan bersungguh-sungguh belajar karena termotivasi. ( Yamin, 2004 ). Memotivasi siswa dengan membangkitkan dorongan kepada siswa untuk belajar yaitu memberi nasihat dengan cara menjelaskan arti pentingnya belajar.
5. Menyampaikan tujuan pembelajaran di setiap pendahuluan KBM. Dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dapat menyiapkan mental siswa agar siap memasuki persoalan yang akan dipelajari/dibicarakan. ( USMKn, 2005 ).
Keterlibatan siswa dalam pembelajaran
dan
Kerjasama 1. Menggunakan pendekatan Salingtemas dalam PBM. Dengan pendekatan salingtemas siswa lebih banyak bertanya dan terampil dalam proses belajar. Sehingga minat siswa terhadap sains bertambah. ( Rustaman, 2005 ).
2. Menggunakan metode mengajar diskusi. kelebihan metode diskusi adalah merangsang keberanian dan kreatifitas siswa dalam mengemukakan gagasan dengan teman-teman. ( Rustaman, 2005 ). Tujuan dari mengajar dengan teknik diskusi di kelas adalah :
a. dapat mempertinggi partisipasi sisiwa secara individu.
b. memberi kemungkinan untuk saling mengemukakan pendapat.
c. memberi kemungkinan kepada siswa untuk belajar berpartisipasi dalam pembicaraan untuk memecahkan suatu masalah bersama sehingga semua siswa aktif dan terlibat dalam proses belajar. ( Roestiyah , 2001 )
Dukungan guru
1. Memberi penguatan ( Reincforcement ), hadiah ( Reward ) dan pujian. Pemberian hadiah cukup efektif untuk memotivasi siswa dalam kompetisi belajar. ( Djamarah, 2002 ). Tujuan penguatan adalah meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif. ( USMKn, 2005 ). Pujian adalah alat motivasi yang positif. ( Djamarah, 2002 )
2. Kehangatan dan keantusiasan guru dapat membuat iklim kelas menyenangkan yang merupakan salah satu syarat bagi proses belajar mengajar yang optimal. ( USMKn , 2005 )
Aturan dan Organisasi/manajemen 1. Membuat tata tertib ( Kontrak pengajaran ) dengan para siswa di kelas. Dengan adanya kontrak telah terbangun kesepakatan antara guru dan siswa. Tata tertib merupakan tindakan pencegahan untuk menghindari terjadinya masalah individu/kelompok. ( Rustaman, 2005 ). Tata tertib dapat berfungsi : ( Cangelosi, 1993 )
a. untuk memaksimalkan perilaku yang baik dan meminimalkan perilaku yang kurang baik.
b. untuk menjamin keamanan dan kenyamanan lingkungan belajar.
c. untuk mencegah aktivitas kelas yang mengganggu kelas lain dan orang lain di luar kelas.
d. untuk memelihara standar norma yang dapat diterima di antara murid.
2. Melakukan tindakan kuratif untuk menghentikan pelanggaran ter hadap tata tertib dengan pemberian hukuman. ( Rustaman, 2005 ). Frekuensi kesalahan diharapkan lebih diperkecil setelah siswa diberi sanksi berupa hukuman. ( Djamarah, 2002 )
Kesetaraan
dan
Keterlibatan siswa 1. Guru memberikan perhatian kepada seluruh siswa. Karena guru yang tidak adil dan pilih kasih merupakan sifat guru yang tidak disukai oleh siswa. ( Djamarah, 2002 ).
2. Guru menyebarkan pertanyaan dan giliran menjawab pertanyaan secara acak dan berusaha agar semua siswa mendapat giliran secara merata. Hal ini bertujuan untuk melibatkan siswa sebanyak-banyaknya di dalam pembelajaran. ( USMKn, 2005 ).
3. Guru bersikap adil, objektif dan fleksibel terhadap semua siswa, sehingga terbina iklim kelas yang menyenangkan dalam proses belajar. Sikap yang bertentangan dengan ini akan menimbulkan masalah dalam pengelolaan kelas. ( Rustaman, 2005 ).
Kegiatan penyelidikan siswa Diadakan kegiatan praktikum.
Kegiatan praktikum memberi kesempatan bagi siswa untuk menemukan teori dan membuktikan teori dengan kegiatan praktikum, siswa dilatih untuk mengembangkan kemampuan berorganisasi dengan melatih kemampuan mereka dalam mengobservasi dengan cermat, mengukur secara teliti dan akurat dengan alat ukur yang lebih sederhana atau yang lebih canggih, merancang, melakukan dan menginterprestasikan eksperimen.

b. Instrumen Iklim Kelas
Dengan adanya korelasi antara iklim kelas dengan prestasi belajar siswa dalam beberapa penelitian, telah menunjukkan hubungan yang sangat erat dan terdapat lebih dari 45 penelitian yang membuktikan adanya hubungan positif antara iklim kelas dengan prestasi belajar siswa. ( Fraser, 1986 dalam Hadiyanto, 2001 ). Penelitian itu dilakukan di berbagai tingkatan sekolah baik Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Kejuruan maupun Perguruan Tinggi yang lebih difokuskan pada pendidikan sains pada level kelas. Penelitian dilakukan dengan menggunakan berbagai macam instrumen iklim kelas sesuai dengan kekhususan dan tujuan penelitian yang dilakukan oleh peneliti.
Instrumen-instrumen tersebut diantaranya adalah Learning Environment Inventory ( LEI ), Classroom Environment Scale ( CES ), My Class Inventory ( MCI ), My Class Environment ( MCE ) Classroom Environment Inventory ( CEI ), dan instrumen lain yang berkembang seperti Science Laboratory Environment Inventory ( SLEI ), Classroom Learning Environment Inventory ( CLEI ) dan What Is Happening In This Class ? ( WIHIC ). Instrumen-instrumen tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Instrumen-Instrumen Iklim Kelas
Istrumen Level Jumlah Item tiap aspek Klasifikasi Aspek Berdasarkan Dimensi Iklim Kelas Moos
Dimensi Hubungan Perkemba-ngan Pribadi Perubahan dan Perbaikan Sistem
Learning Environment Inventory ( LEI ) Pendidikan Menengah 7 Kekompakan
Perselisihan
Favoritisme
Klik, Kepuasan,
Apati Kecepatan Kesukaran, Kompetisi Perbedaan,Forma-litas, Lingkungan fisik, Pengarahan pada tujuan, Disorganisasi
Classroom Environment Scale ( CES ) Pendidikan Menengah 10 Keterlibatan, Afiliasi, Dukungan Guru Arahan Tugas,
Kompetisi Aturan dan Organisasi, Kejelasan Aturan, Pengawasan Guru, Inovasi
Individualised Classroom Environment Questionnaire ( ICEQ ) Pendidikan Menengah 10 Personalisasi, Partisipasi Kemerde-kaan,
kegiatan penyelidikan Perbedaan
My Class Inventory ( MCI ) Pendidikan Dasar 10 Kekompakan, Friksi, Kepuasan Kesukaran, Kompetisi –
My Class Environment ( MCE ) Pendidikan Dasar – Kekompakan, Kepuasan, Kecepatan, Kesulitan Formalitas, Demokrasi
College and University Class room Inventory ( CUCI ) Pendidikan Tinggi 7 Personalisasi, Keterlibatan, Kekompakan, Kepuasan Arahan Tugas Inovasi, Individualisasi
Science Laboratory Environment Inventory ( SLEI ) Pendidikan Khusus, Menengah, & Pend. Tinggi 7 Kekompakan siswa Integrasi terbuka-tertutup Kejelasan Aturan, Lingkungan fisik
Computer Laboratory Environment Inventory ( CLEI ) Pendidikan Khusus, Menengah,& Pend. Tinggi 7 Kekompakan siswa Integrasi terbuka-tertutup Kejelasan Aturan, Lingkungan Fisik
Questionnaire on Teacher Interaction ( QTI ) Pendidikan Menengah 8-10 Membantu/ Ramah, Pengertian, Ketidakpuasan, Menegur – Kepemimpinan, kebebasan dan tanggung jawab siswa, Ketidak-pastian, Keras
Constructivist Learning Environment Survey ( CLES ) Pendidikan Menengah 7 Relevansi Personal, Ketidak puasan Suara Kritikan, Pembagian Kontrol, Negosiasi Siswa
What Is Happening In This Class ? ( WIHIC ) Pendidikan Menengah 8 Kekompakan siswa, Dukungan guru, Keterlibatan Siswa Kegiatan Penyelidikan ,Arahan tugas dari guru, Kerjasama Kesetaraan
Sumber : Fraser,1998 dalam Margianti, 2003

2. Motivasi
Kata Motivasi berasal dari bahasa latin yakni moverus yang berarti sebab, alasan, dasar, dorongan dari dalam seseorang untuk berbuat sesuatu. ( Siagian, 1995 ). Beberapa ahli juga mendefinisikan motivasi sebagai suatu usaha yang didasari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. ( Purwanto, 2000 ).
Berdasarkan pengertian tersebut diatas motivasi dapat juga didefinisikan sebagai suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. ( USMKn, 1995 ).
Motivasi dapat mempengaruhi tingkah laku individu dalam memenuhi kebutuhan tertentu. Kebutuhan-kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan dasar yang dapat dilihat pada piramida kebutuhan dasar atau basic needs. ( Maslow, 1970 dalam child, 1991 )

Self-actualization
Need for self-fulfilment
Self-esteem : competence, mastery
recognition, reputation
Love and belonging : affiliation, affection
Safety : physical and psychological security, protection
Physiological : food, liquid, oxygen, constant blood temperature

Gambar 1. Tingkatan kebutuhan-kebutuhan dasar ( basic needs )

Motivasi mempunyai tiga fungsi yaitu mendorong manusia untuk berbuat sesuatu baik yang positif maupun yang negatif, menentukan arah perbuatan, menyeleksi perbuatan.
Pada dasarnya Motivasi dibagi menjadi dua yaitu :

a. Motivasi Intrinsik : motivasi yang timbul sebagai akibat dari dalam individu sendiri, tanpa ada paksaan dorongan dari orang lain tetapi atas kemauan sendiri.
b. Motivasi Ekstrinsik : motivasi yang timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain, sehingga akhirnya ia mau melakukan sesuatu. ( USMKn, 1995 ).

Motivasi ekstrinsik muncul karena adanya perangsang dari luar misalnya iklim pembelajaran di kelas, lingkungan rumah, dukungan orang tua, pemberian penguatan ( reinforcement ), penghargaan ( reward ) dan hukuman ( punishment ). Motivasi ekstrinsik dapat meningkatkan motivasi intrinsik. ( Prayitno, 1989 ).
Dalam kegiatan belajar mengajar atau pembelajaran motivasi bukan saja menggerakkan tingkah laku, tetapi juga mengarahkan dan memperkuat tingkah laku. Siswa yang termotivasi dalam belajar, menunjukkan minat, kegairahan, ketekunan yang tinggi dalam belajar, variasi aktivitas belajar mereka pun lebih banyak. ( Prayitno, 1989 ). Motivasi berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi turun naiknya kegiatan atau upaya siswa dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya.
Sehingga hasil prestasi siswa bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh reaksinya terhadap faktor seperti kesenjangan, harapan, rasa khawatir, frustasi, motivasi untuk berprestasi, insentif, kompetensi atau hukuman. Motivasi dapat ditingkatkan dengan cara menciptakan iklim kelas yang kondusif, memberikan penghargaan ( reward ) dan menerapkan hukuman ( punishment ). ( Child,1991 ).
Dalam penegakan hukuman ( punishment ) yang diikuti oleh perilaku baik dapat menjadi motivasi ekstrinsik bagi siswa sehingga mengajarkan siswa untuk menghindari perilaku yang kurang baik. ( Cangelosi, 1993 ). dan pemberian penghargaan ( reward ) adalah salah satu cara dalam meningkatkan motivasi siswa. ( Child, 1991 ). Ketika perilaku yang baik diberikan penguatan positif dengan cara pemberian reward, hal ini akan menjadi motivasi ekstrinsik yang diharapkan siswa akan mengulangi perilaku baik tersebut. ( Cangelosi, 1993 ).

3. Belajar Fisika
Kata belajar didefinisikan sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. ( Syah, 1997 ). Belajar dan mengajar sebagai suatu proses mengandung tiga unsur yang dapat dibedakan, yakni tujuan pengajaran, pengalaman belajar mengajar dan hasil belajar. ( Sudjana, 2004 )
Pelajaran Fisika adalah salah satu dari cabang ilmu pengetahuan fisika atau sains yang mempelajarai tentang perubahan bentuk suatu benda menjadi bentuk yang lain dan kembali kebentuk semula. Objek Fisika meliputi seluruh alam jagat raya ( Pengukuran besaran fisika, Gejala alam, Sifat mekanik bahan, Sifat gas ideal, Prinsip optik, Getaran gelombang, Kelistrikan dan kemagnetan. dsb ) yang dikaji mulai dari tingkat prinsip-prinsip pengukuran secara cermat, teliti dan obyektif, menganalisis berbagai gejala alam, menguasai konsep dasar fisika yang mendukung secara langsung, penerapan dan pengembangan kemampuan program keahlian dalam kehidupan sehari-hari serta pada tingkat yang lebih tinggi.
Adapun persoalan yang dikaji meliputi 10 Standar kompetensi lulusan mata pelajaran fisika untuk Sekolah Menengah Kejuruan yaitu : (a) Memahami prinsip-prinsip pengukuran dan melakukan pengukuran besaran fisika secara langsung, tidak langsung, secara cermat, teliti, dan obyektif. (b) Menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik, kekekalan energi, impuls dan momentum. (c) Memahami sifat mekanik bahan serta menentukan kekuatan bahan. (d) Mendiskripsikan prinsip dan konsep konservasi kalor sifat gas ideal, fluida dan perubahannya yang menyangkut hukum thermodinamika serta penerapannya dalam mesin kalor. (e) Menerapkan konsep dan prinsip optik dan gelombang dalam berbagai penyelesaian masalah. (f) Memahami konsep getaran, gelombang dan bunyi serta penerapannya untuk pemecahan masalah. (g) Menerapkan konsep dan prinsip kelistrikan dan kemagnetan dalam berbagai masalah. (h) Menguasai konsep dasar fisika yang mendukung secara langsung pencapaian kompetensi program keahliannya. (i) Menerapkan konsep dasar fisika untuk mendukung penerapan kompetensi program keahliannya dalam kehidupan sehari-hari. (j) Menerapkan konsep dasar fisika untuk mengembangkan kemampuan program keahliannya pada tingkat yang lebih tinggi. ( Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMK N 7 Jakarta, 2006, pada Standar kompetensi lulusan mata pelajaran Fisika ).

Pelajaran Fisika berupaya untuk membekali siswa/peserta didiknya dengan berbagai kemampuan tentang cara mengetahui dan cara mengerjakan sehingga dapat membantu siswa memahami gejala alam sekitar secara mendalam. Dalam pembelajaran Fisika SMK objek Fisika dipelajari melalui keterampilan proses sains. ( Scientific Process Skill ) ( Rustaman, 2005 ).
4. Penelitian Tindakan Kelas ( Classroom Action Research )
Penelitian Tindakan Kelas dapat disebut juga Classroom Action Research.
Action research is a form of self-reflective inquiry undertaken by participants in social ( including educational ) situations in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices, (b) their understanding of these practices and (c) the situations in wich the practices are carried out. ( Stephen Kemmis dalam Hammersley, 2002 ).

Berdasarkan dari definisi di atas dapat diartikan bahwa Penelitian Tindakan Kelas atau Classroom Action Research adalah suatu kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktik-praktik pembelajaran tersebut dilakukan.
Penelitian Tindakan Kelas juga dapat didefinisikan sebagai upaya sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktik pembelajaran mereka dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktik pembelajaran mereka dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu. ( Kemmis dalam Wiraatmadja, 2005 ).

Kondisi saat ini penelitian tindakan kelas sedang berkembang dengan pesat di negara-negara maju seperti Inggris, Amerika, Australia dan Canada. Penelitian Tindakan Kelas mampu menawarkan pendekatan dan prosedur baru yang lebih menjanjikan dampak langsung dalam bentuk perbaikan dan peningkatan profesionalisme guru dalam mengelola proses belajar-mengajar di kelas atau implementasi berbagai program di sekolahnya dengan mengkaji berbagai indikator keberhasilan proses dan hasil implementasinya di berbagai program sekolah.
Ada beberapa jenis Classroom Action Research, dua diantaranya adalah Individual Classroom Action Research yang dilakukan sendiri oleh guru dan Collaboration Classroom Action Research yang dilakukan oleh guru bekerja sama dengan kolaborator. ( Hammersley, 2002 ). Konsep pokok Individual Classroom Action Research terdiri dari empat komponen, yaitu : 1) perencanaan ( planning ), 2) tindakan ( acting ), 3) pengamatan ( observing ), dan 4) refleksi ( reflecting ). Hubungan keempat komponen itu adalah sebagai satu siklus yang dapat dilihat pada Gambar 2 berikut.

Plan

Reflective

Action/Observation
Revised Plan

Reflective

Action/Observation
Revised Plan
Reflective

Action/Observation

Gambar 2. Siklus di dalam Penelitian Tindakan Kelas

B. Kerangka Berpikir
Pembelajaran Fisika di SMK adalah pembelajaran yang menuntut siswa untuk menguasai fakta, konsep dan prinsip-prinsip yang ada pada Fisika. Proses pembelajaran ini melibatkan kegiatan mencari, menganalisis serta memecahkan masalah yang berkenaan dengan objek-objek Fisika.
Tercapainya tujuan pembelajaran Fisika yang meliputi kompetensi dasar dipengaruhi oleh berbagai faktor baik internal maupun eksternal. Faktor internal yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran siswa diantaranya adalah motivasi belajar siswa, sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi proses pembelajaran siswa diantaranya adalah iklim kelas. Agar tujuan proses pembelajaran dapat berhasil, maka guru bidang studi Fisika sebagai nara sumber dan sekaligus manajer kelas harus mampu mengelola kelas dengan baik agar tercipta iklim kelas yang kondusif. Iklim kelas yang kondusif dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih baik.
Jika iklim kelas kurang mendukung kegiatan pembelajaran, maka diperlukan suatu upaya untuk memperbaiki iklim kelas agar dapat memotivasi siswa untuk belajar. Iklim kelas dapat diukur dan diperbaiki dengan menggunakan instrumen yang telah dikembangkan oleh para ahli. Instrumen iklim kelas memiliki aspek-aspek yang dapat mewakili aspek-aspek didalam iklim kelas. Untuk memperbaiki iklim kelas siswa diberikan dua bentuk instrumen iklim kelas yaitu Actual form untuk mengungkap iklim kelas sebenarnya dan Preferred form untuk mengungkap iklim kelas yang diinginkan siswa itu sendiri. Dengan melihat aspek prioritas yang memiliki perbedaan besar antara iklim kelas yang dialami dan diinginkan, guru bidang studi dapat merancang tindakan yang tepat untuk memperbaiki aspek prioritas tersebut. Tindakan perbaikan dilakukan untuk menciptakan iklim kelas yang sedekat mungkin dengan iklim kelas yang diinginkan siswa. Dengan demikian untuk menciptakan iklim kelas yang diinginkan siswa, diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa di dalam kelas.
SMK Negeri 7 Jakarta adalah sekolah menengah kejuruan khusus yang mempunyai program studi grafika dan multimedia yang terletak di Jalan Tenggiri No. 1 Rawamangun Jakarta Timur. Yang akan dijadikan model penelitian iklim kelas dan berdasarkan hasil wawancara dengan siswa yang dilakukan pada penelitian awal ( pra siklus ) tanggal 7 dan 14 Agustus 2009 pada Kelas XI TR Semester III SMK Negeri 7 Jakarta, dapat disimpulkan bahwa kelas ini memiliki motivasi belajar bidang studi Fisika yang cukup. Hal ini terlihat dari suasana kelas yang agak ribut pada saat pembelajaran Fisika berlangsung dan kurangnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran.
Selanjutnya untuk mengetahui iklim kelas XI TR Semester III SMK N 7 Jakarta, digunakan instrumen iklim kelas modifikasi WIHIC, sedangkan motivasi belajar Fisika siswa sebelum penelitian diketahui dari hasil angket instrumen motivasi belajar siswa. Setelah dilakukan analisis data iklim kelas dan motivasi belajar Fisika siswa diketahui bahwa motivasi belajar Fisika Kelas XI TR Semester III SMK Negeri 7 Jakarta adalah cukup. Hal ini dikarenakan berbagai faktor, yang diantaranya adalah beberapa aspek dari iklim kelas yang kurang mendukung untuk kegiatan belajar mengajar. Aspek-aspek tersebut adalah sarana / prasarana, aturan dan organisasi/manajemen, kekompakan siswa dan keterlibatan siswa.
Agar motivasi belajar Fisika meningkat, maka diperlukan tindakan untuk memperbaiki aspek-aspek dari iklim kelas tersebut agar sesuai dengan keinginan siswa. Oleh Karena itu apabila siswa belajar sesuai dengan iklim kelas yang diinginkan, mereka akan termotivasi untuk belajar sehingga prestasi belajar mereka akan jauh lebih baik.
Perbaikan iklim kelas tersebut dilakukan dengan melakukan langkah-langkah perbaikan iklim kelas yang dimulai dengan melakukan penilaian awal, umpan balik, refleksi dan diskusi, perbaikan serta penilaian ulang. Dengan demikian hasil akhir yang diharapkan dari penelitian tindakan kelas yang dikhususkan pada perbaikan iklim kelas ini adalah meningkatnya motivasi belajar Fisika siswa kelas XI TR Semester III SMK Negeri 7 Jakarta.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Operasional Penelitian
Tujuan operasional penelitian ini adalah melakukan tindakan-tindakan untuk memperbaiki iklim kelas dalam upaya untuk meningkatkan motivasi belajar Fisika siswa Kelas XI TR Semester III SMK Negeri 7 Jakarta.

B. Waktu dan Tempat Penelitian
Waktu penelitian ini dilaksanakan dari Agustus sampai Oktober 2009. Tempat penelitian di Sekolah Menengah Kejuruan 7 Jalan Tenggiri No. 1 Rawamangun Jakarta Timur, Kelas XI TR Semester III Tahun Pelajaran 2009/2010.

C. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Kelas Individual ( Individual classroom action research ).

D. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa-siswi Kelas XI TR Semester III Jurusan Persiapan Grafika, Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 7 Jakarta Timur.

E. Instrumen Penelitian
Adapun instrumen yang digunakan pada Penelitian Tindakan Kelas ini adalah :
1. Instrumen modifikasi WIHIC
Pada penelitian tindakan kelas ini WIHIC dimodifikasi dengan menambahkan satu aspek yang berasal dari Classroom Environment Scale ( CES ) yaitu Order and Organization ( Aturan dan Organisasi ). Hal ini diambil dengan mempertimbangkan kelas di Indonesia pada umumnya memiliki jumlah siswa yang besar ( 36 siswa atau lebih ) pada penelitian ini jumlah siswa XI TR sejumlah 29 siswa dan keadaan ini biasanya menimbulkan ketidak teraturan atau kekacauan. ( Winata putra, 2000 ). Pada penelitian ini WIHIC dimodifikasi dengan menggunakan 8 aspek yang masing-masing terdiri dari 5 pernyataan yang telah dikembangkan dari versi aslinya. ( 8 pernyataan peraspek ) sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Masing-masing pernyataan dari instrumen ini memungkinkan responden menjawab pertanyaan mulai dari setuju, tidak setuju atau sangat tidak setuju. Instrumen iklim kelas ini didisain dalam dua bentuk, yaitu Actual Form untuk mengungkap iklim kelas yang dialami sekarang dan Preffered Form yang digunakan untuk mengetahui iklim kelas yang diinginkan siswa. Instrumen modifikasi WIHIC memuat pernyataan-pernyataan yang disusun untuk siswa sekolah menengah kejuruan.
Dimana aspek-aspek yang terdapat pada instrumen modifikasi WIHIC antara lain :
a. Kekompakan Siswa ( Student Cohessiveness )
Aspek ini mengungkap sejauh mana siswa mengenal, membantu dan saling mendukung satu sama lain.
b. Dukungan Guru ( Teacher Support )
Aspek ini mengungkap sejauh mana guru membantu, bersahabat, percaya dan menaruh perhatian terhadap siswa.
c. Keterlibatan Siswa dalam Pembelajaran ( Involvement )
Mengukur sejauh mana siswa tertarik dan berpartisipasi dalam pembelajaran, diskusi kelas, melakukan kerja ekstra untuk sukses dalam pembelajaran.
d. Kegiatan penyelidikan ( Investigation )
Mengukur sejauh mana siswa menggunakan kemampuan melakukan penyelidikan untuk menyelesaikan suatu masalah.
e. Arahan tugas dari guru ( Task Orientation )
Mengungkap sejauh mana siswa memandang penting untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, dan tetap terfokus pada pembelajaran.
f. Kerjasama siswa ( Cooperation )
Mengungkap sejauh mana siswa bekerjasama dalam menyelesaikan tugas-tugas selama proses pembelajaran.

g) Kesetaraan ( Equity )
Mengungkap sejauh mana siswa/peserta didik diperlakukan setara dan sederajat oleh guru.
h) Aturan dan Organisasi ( Order and Organization )
Aspek ini menekankan pada pentingnya siswa bertingkah laku baik sesuai dengan aturan, organisasi dan kegiatan kelas.
2. Instrumen Motivasi belajar siswa ( Makmun, 1994 ) sebanyak 40 butir pernyataan. Siswa cukup memilih salah satu dari alternatif jawaban berdasarkan aspek Likert mulai dari Sangat Setuju sampai Sangat Tidak Setuju.
3. Instrumen hasil belajar yang diberikan tiap akhir siklus sebagai data pendukung pada materi Impuls untuk Pra Siklus, materi momemtum untuk Siklus I dan materi Elastisitas pada setiap akhir siklus.

Sebelum digunakan pada penelitian, ketiga instrumen tersebut diuji coba terlebih dahulu validitas dan reliabilitiasnya pada tanggal 17 Juni 2009.
a. Validitas instrumen
Validitas ( kesahihan ) adalah kualitas yang menunjukkan hubungan antara suatu pengukuran ( diagnosis ) dengan arti atau tujuan kriteria belajar atau tingkah laku. ( Purwanto, 2001 ). Suatu tes/instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsinya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran. Untuk menguji validitas tiap pernyataan dari instrumen modifikasi WIHIC ( Actual form dan Preferred form ), instrumen motivasi, tes hasil belajar kognitif dalam bentuk pilihan ganda digunakan korelasi Product Moment dengan rumus :
rxy =

Keterangan :
rxy : Koefisien korelasi product moment
N : Jumlah sampel
X : Nilai dari tiap pernyataan
Y : Skor dari tiap jawaban siswa

Apabila dirujuk dengan r pada N = 36 dan taraf signifikansi = 0,05 maka r-tabel sebesar 0,312. Jika r < r – tabel maka pernyataan pada instrumen tersebut tidak valid dan harus dibuang. Berdasarkan rumus tersebut didapat :
1) Instrumen modifikasi WIHIC versi Actual Form yang diuji cobakan terdiri dari 56 pernyataan. Jumlah pernyataan yang tidak valid adalah 3 tetapi pernyataan yang dipakai untuk penelitian berjumlah 40 pernyataan. ( Lampiran 3 ).
2) Instrumen modifikasi WIHIC versi Preferred Form yang diuji cobakan terdiri dari 56 pernyataan. Jumlah pernyataan yang tidak valid adalah 5 pernyataan tetapi pernyataan yang dipakai untuk penelitian berjumlah 40 dimana masing-masing aspek terdiri dari 5 pernyataan. ( Lampiran 3 ). Untuk spesifikasi tiap butir pernyataan instrumen modifikasi WIHIC dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini.

Tabel 3. Spesifikasi Butir Pernyataan dalam Instrumen Modifikasi WIHIC

No A s p e k Dimensi
Hubungan ( Relationship ) Perkembangan Pribadi ( Personal Growth ) Perubahan dan Perbaikan Sistem ( System Maintenance & Change )
1. Kekompakan
(Student Cohesiveness)
1, 2, 3, 4#, 5#+, 6, 7
2. Dukungan guru (Teacher Support) 8, 9#+, 10, 11, 12, 13, 14#
3. Keterlibatan Siswa (Involvement) 15#+, 16, 17, 18, 19, 20#+, 21
4. Kegiatan penyelidikan (Investigation) 29, 30, 31#, 32, 33#, 34, 35
5. Arahan tugas dari guru (Task Orientation) 36, 37#, 38, 39#, 40, 41, 42
6. Kerja sama siswa (Cooperation) 43, 44, 45, 46#, 47, 48#+, 49
7. Kesetaraan (Equity) 50, 51#+, 52, 53, 54, 55#, 56
8. Aturan dan Organisasi (Order and Organization ) 22, 23#, 24, 25, 26, 27, 28#
# = pernyataan yang tidak digunakan
+ = pernyataan yang tidak valid (actual : 5,48,51) dan (preferred : 5,9,15,20,51)

3) Instrumen motivasi belajar Fisika siswa yang diuji cobakan terdiri dari 48 pernyataan. Jumlah pernyataan yang tidak valid adalah 2 pernyataan tetapi pernyataan yang dipakai untuk penelitian berjumlah 40 dimana masing-masing dimensi terdiri dari 5 pernyataan Lampiran
5). Spesifikasi tiap butir dari instrumen motivasi belajar Fisika siswa dapat dilihat pada Tabel 4 berikut.

Tabel 4. Spesifikasi Butir Pernyataan dalam Instrumen Motivasi Belajar Fisika Siswa

No Dimensi* Jumlah pernyataan Spesifikasi
Positif Negatif
1. Durasi Kegiatan. 6 2,5,6 1#+,3,4
2. Frekuensi kegiatan. 6 7,8#,9,11,12 10
3. Ketepatan pada tujuan kegiatan. 6 13,14,15,16,18 17#
4. Ketabahan dalam menghadapi rintangan dan kesulitan untuk pencapaian tujuan. 6 19,20,21,24 22,23#+
5. Devosi ( pengabdian ) dan pengorbanan untuk mencapai tujuan. 6 25,26,29,30# 27,28
6. Tingkatan aspirasi. 6 32,35,36 31,33,34#
7. Kualifikasi prestasi atau output yang dicapai dari kegiatan 6 38,39,40#,41,42 37
8. Arah sikap terhadap sasaran kegiatan. 6 44,45,47#,48 43,46,
+ = pernyataan yang dibuang karena tidak valid *Sumber : Makmun (1996)
# = pernyataan yang tidak digunakan

4) Instrumen tes hasil belajar kognitif yang diuji cobakan terdiri dari 30 soal pilihan ganda. Setelah dilakukan uji coba diperoleh sebanyak 13 soal diterima, 4 soal direvisi dan 13 soal ditolak. Sedangkan validitas untuk tes hasil belajar uraian dipakai validitas isi. Tes hasil belajar kognitif yang akan digunakan dalam penelitian adalah 15 soal pilihan ganda dan 4 soal uraian. ( Lampiran 5 ).

b. Reliabilitas instrument ( keandalan )
Reliabilitas ( keandalan ) adalah ketetapan atau ketelitian suatu alat evaluasi. Suatu tes dikatakan andal jika ia dapat dipercaya, konsisten. ( Purwanto, 2001 ). Hasil pengukuran dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali diukur mempunyai hasil yang relatif sama. ( Azwar, 2003 ). Untuk menguji validitas tiap pernyataan dari instrumen modifikasi WIHIC ( Actual form dan Preferred form ) dan instrumen motivasi serta instrumen tes hasil belajar kognitif bentuk uraian digunakan rumus Alpha Cronbach yaitu :
r11 =

Keterangan :
r11 : reliabilitas
∑σi 2 : jumlah varian skor tiap-tiap butir
n : banyaknya butir pernyataan
σt 2 : varian skor tiap-tiap butir pernyataan

Tabel 5. Klasifikasi Reliabilitas

Reliabilitas Kualifikasi
SKBM = 21 siswa (46.7%).
2.Nilai < SKBM = 24 siswa (53.3%)
2 56-69 27 60,00% Cukup
3 70-79 2 4,44% Baik
4 80-100 Amat Baik
Keterangan :
SKBM = 6.00

Berdasarkan data nilai siswa di atas terdapat 53.3% siswa yang mempunyai nilai di bawah SKBM yaitu 6.00.
Setelah melihat data motivasi belajar Fisika siswa dan nilai tes hasil belajarnya dapat dikatakan bahwa motivasi belajar Fisika siswa Kelas XI TR cukup, maka diperlukan suatu tindakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa agar menjadi baik. Kriteria tingkatan motivasi mengacu kepada mekanisme analisa data kualitatif. ( Arikunto,1998 ) dapat dilihat pada Tabel berikut :

Tabel 9. Kriteria Tingkatan Motivasi ( Arikunto, 1998 )

Prosentase Kategori
76%-100% Baik
56%-75% Cukup
40%-55% Kurang Baik
SKBM = 36 siswa (80%).
2.Nilai SKBM = 40 siswa (88.89%).
2.Nilai < SKBM = 5 siswa (11.11%)
2 56-69 17 37,78% Cukup
3 70-79 20 44,44% Baik
4 80-100 4 8,89% Amat Baik

Keterangan :
SKBM = 6.00

Berdasarkan data tersebut terdapat 20% siswa yang mempunyai nilai di bawah SKBM yaitu 6.00 pada siklus I kini menurun menjadi 11,11% pada siklus II. Hal ini mengartikan bahwa pencapaian SKBM pada siklus II meningkat 8,89% dari siklus I.

2) Motivasi Belajar Siswa pada Tiap Pertemuan
Selama siklus II dilakukan pengamatan motivasi belajar siswa secara klasikal dalam setiap pertemuan. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana peningkatan motivasi belajar siswa yang terjadi di dalam kelas pada tiap pertemuan. Data yang diperoleh berupa rata-rata persentase motivasi belajar siswa tiap pertemuan yaitu 88.46% ( Lampiran 14 ). Jika dibandingkan dengan siklus I, maka terjadi kenaikan pada rata-rata persentase motivasi belajar siswa yang pada siklus I sebesar 71,13% menjadi 88,46% pada siklus II.

B. PEMBAHASAN
1. Siklus I
a. Perencanaan Tindakan
Setelah dilakukan langkah penilaian awal ( assessement ) dalam proses perbaikan iklim kelas pada prasiklus yaitu dengan memberikan 2 bentuk instrumen iklim kelas ( actual form dan preferred form ) dan kemudian dianalisis sehingga diketahui perbedaan masing-masing aspek antara kedua bentuk instrument. Selanjutnya dilakukan umpan balik ( feedback ) sehingga diketahui aspek-aspek prioritas yang akan diberi tindakan. Aspek-aspek tersebut adalah aspek Aturan dan Organisasi yang memiliki perbedaan cukup besar antara iklim kelas yang sebenarnya dan yang diinginkan siswa yaitu 2,27, aspek kekompakan siswa dengan perbedaan 1,78 dan aspek Keterlibatan Siswa yang memiliki perbedaan 1,69.
Langkah perbaikan iklim kelas selanjutnya adalah refleksi dan diskusi ( reflection and discussion ). Langkah ini dilakukan dengan kolaborasi antara guru Fisika sebagai peneliti dengan staf sekolah untuk merumuskan tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk memperbaiki aspek Aturan dan organisasi, kekompakan siswa dan keterlibatan siswa. Tindakan-tindakan yang dirancang kemudian dituangkan dalam bentuk skenario pembelajaran ( lampiran 1 ). Tindakan-tindakan yang direncanakan adalah :
1) Aturan dan Organisasi
Untuk memperbaiki aspek aturan dan organisasi, guru dan juga sebagai peneliti sepakat untuk membuat tata tertib pada saat pelajaran Fisika yang berlaku bagi Kelas XI TR. Sedangkan organisasi kelas tidak direncanakan karena Kelas XI TR telah mempunyai susunan organisasi kelas, jadi tindakan yang direncanakan untuk aspek aturan dan organisasi hanya pembuatan tata tertib.
Tata tertib ini dirumuskan bersama guru sekaligus peneliti dan staf sekolah yang kemudian pada saat pensosialisasiannya guru bersama siswa saling bermusyawarah untuk menyepakati isi dari tata tertib. Musyawarah dilakukan sebagai salah satu cara untuk menciptakan kelas yang demokratis di mana murid dan guru saling mengemukakan pendapatnya guna mewujudkan iklim kelas yang kondusif untuk belajar.
2) Kekompakan Siswa dan Keterlibatan Siswa
Untuk memperbaiki aspek kekompakan siswa dan keterlibatan siswa, guru sebagai peneliti merancang metode-metode pembelajaran yang bervariasi. Metode-metode pembelajaran tersebut melibatkan siswa sepenuhnya dalam pembelajaran, metode-metode tersebut adalah permainan Talking Stick, Cooperative Learning teknik Think Pair Square, Praktikum dan model pembelajaran dengan pendekatan SaLingTeMas pada kegiatan eksperimen pengembangan elastisitas pada per. Pada model-model pembelajaran tersebut siswa juga terlibat dalam kelompok belajar. Kelompok-kelompok tersebut dibuat heterogen dengan latar belakang kemampuan kognitif, jenis kelamin dan sifat individu yang berbeda dan diharapkan melalui kegiatan belajar kelompok siswa dapat saling mengenal satu sama lain sehingga terwujud Kelas XI TR yang kompak. Pembelajaran yang dilakukan dengan melibatkan kelompok belajar diantaranya pembelajaran menggunakan Cooperative Learning model Think Pair Square ( pertemuan 2 ), praktikum ( pertemuan 3 ) dan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan SaLingTeMas pada kegiatan pengembangan elastisitas pegas ( pertemuan 4 )
Tindakan-tindakan tersebut telah terlaksana sesuai rencana. Tetapi pada pengelompokkan siswa pada pertemuan ke-3 dan ke-4 kurang efektif dikarenakan anggota kelompok kurang heterogen. Pada pertemuan ke-3 anggota kelompok masih sama dengan kelompok pada pertemuan ke-2. Sedangkan kelompok pada pertemuan ke-4 adalah kelompok teman sebangku yang sudah saling mengenal sejak awal.

b. Pelaksanaan tindakan
Langkah perbaikan iklim kelas selanjutnya berupa intervention atau campur tangan perbaikan. Pada langkah ini, guru melaksanakan skenario pembelajaran dan tindakan yang telah dirumuskan dalam kegiatan pembelajaran materi elastisitas pada per. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung peneliti dan observer mengamati jalannya proses pembelajaran pada siklus I. Siklus I berlangsung dengan 4 pertemuan. Pertemuan I berlangsung selama 90 menit. Guru membuka pelajaran dengan membacakan tata tertib yang berfungsi menertibkan dan membuat kelas menjadi kondusif. Siswa diberikan kesempatan oleh guru untuk mengemukakan pendapatnya mengenai tata tertib yang telah dirancang, tetapi tak ada satupun siswa yang menolak maupun merevisi tata tertib. Seluruh siswa menyatakan sepakat dengan peraturan yang dibuat dan berjanji akan mentaati tata tertib dan konsekuensinya.
Setelah dibacakan tata tertib kemudian guru menjelaskan materi elastisitas dengan digunakan permainan Talking Stick untuk memotivasi siswa dalam belajar dan melibatkan siswa dalam belajar. Pada permainan ini siswa yang memegang tongkat harus menjawab pertanyaan dari guru tanpa melihat buku, jika siswa tersebut menjawab benar atau salah, siswa boleh secara bebas memberikan tongkat kepada siswa yang lain sesuai dengan kehendaknya. Siswa yang dapat menjawab pertanyaan mendapat reward yaitu penambahan nilai 5. Penambahan nilai 5 adalah salah satu cara untuk memotivasi siswa agar dapat menjawab pertanyaan. Pada permainan ini siswa yang terlibat dalam permainan adalah 29 siswa, sedangkan jumlah siswa yang dapat menjawab pertanyaan adalah 6 siswa. Sedikitnya jumlah siswa yang dapat menjawab dikarenakan beberapa siswa terlihat gugup dalam menjawab pertanyaan dan yang lain tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan yang diberikan.
Pada pertemuan ke-2, tindakan yang dilakukan adalah untuk melibatkan siswa dalam pembelajaran dan menciptakan kekompakan dalam Kelas XI TR. Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan Cooperatif Learning teknik Think Pair Square. Siswa bekerja dalam kelompok heterogen yang terdiri dari 4 siswa. Dalam teknik Think Pair Square siswa mengikuti tiap tahapan, diantaranya tahap thinking ( siswa belajar sendiri mengenai perbedaan mengenai perbedaan elastisitas antara per dari baja dan karet ), tahap pairing ( siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi ), tahap square ( kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat untuk mendiskusikan dan mengerjakan Lembar Kerja Siswa tanpa melihat buku ). Dalam pembelajaran secara umum siswa terlihat antusias dan aktif.
Tiga kelompok yang tercepat dalam mengumpulkan Lembar Kerja Siswa akan mendapatkan poin 5, reward ini diberikan agar siswa termotivasi dalam bekerja. Setelah selesai siswa diminta mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas. Kemudian Guru dan siswa membahas jawaban yang benar dari pertanyaan-pertanyaan dalam Lembar Kerja. Kelompok yang terbaik dan siswa terbaik kemudian akan diberikan penghargaan pada pertemuan ke-5 berupa piagam penghargaan ( Lampiran 17 ) dan hadiah.
Pada pertemuan ke-3 yang berlangsung selama 120 menit tindakan yang dilakukan masih untuk melibatkan siswa dalam pembelajaran dan menciptakan kekompakan dalam Kelas XI TR. Pada 40 menit pertama guru mengulang materi yang telah lalu dan menyampaikan cara kerja yang akan dilakukan pada praktikum. Kemudian pembelajaran dilakukan dengan praktikum materi elastisitas pada per logam dan karet. Pada praktikum siswa mengamati serta membedakan elastisitas per logam dan elastisitas karet dengan menggunakan percobaan beban massa yang berlainan. Dalam pengamatan siswa duduk berkelompok dan mendapatkan Lembar Kerja Siswa yang harus diisi oleh masing-masing siswa. Selama kegiatan berlangsung siswa antusias dan aktif terlibat dalam pengamatan. Ketika praktikum berlangsung, guru berkeliling untuk membimbing siswa dan setelah selesai guru bersama siswa membahas Lembar Kerja Siswa. Pada pertemuan ini guru Fisika memberikan tugas kepada siswa untuk membawa alat dan bahan yang akan digunakan untuk melakukan eksperimen mengenai elastisitas per dan karet pada pertemuan selanjutnya.
Pada pertemuan ke-4 yang berlangsung 80 menit, tindakan yang dilakukan adalah dengan menggunakan pendekatan SaLingTeMas yaitu dengan melakukan eksperimen pada kegiatan pengembangan elastisitas. Dalam satu kelas siswa dibagi dalam 3 kelompok besar dengan tema berbeda. Kemudian dari ke-3 kelompok besar itu terdapat kelompok-kelompok kerja yang terdiri dari 2 orang mendapatkan satu judul cara pengembangan elastisitas per baja dan karet. Bahan dan alat dibawa sendiri oleh masing-masing siswa yang sudah ditentukan pada pertemuan sebelumnya. Siswa kemudian melakukan kegiatan pengembangan elastisitas dengan bimbingan dari guru. Dalam kegiatan ini siswa terlihat antusias dan bersemangat. Setelah selesai diadakan kuis untuk mengukur pengetahuan siswa dan diskusi untuk membahas kegiatan yang telah dilakukan.
Selama siklus I berlangsung tata tertib tetap ditegakkan. Pada pertemuan I terdapat 4 siswa yang melanggar peraturan, sedangkan pada pertemuan ke-2 dan ke-3 tidak terdapat siswa yang melanggar tata tertib. Pada pertemuan ke-4 terdapat 2 siswa yang melanggar tata tertib. Guru sebagai peneliti mengontrol jalannya tata tertib selama kegiatan Pembelajaran berlangsung dan guru menindak siswa yang melanggar tata tertib. ( Lampiran 11 ).

c. Observasi dan Evaluasi
Tahap observasi dilakukan selama siklus I berlangsung. Guru sebagai peneliti melaksanakan tindakan dan mengamati jalannya skenario pembelajaran dan tindakan perbaikan yang dilakukan. Dalam tahap ini guru sebagai peneliti mengobservasi jalannya tindakan yang dilakukannya dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan format observasi mengajar guru, dan sekaligus mengobservasi motivasi belajar Fisika siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan format observasi motivasi belajar siswa di kelas untuk tiap pertemuan. Hal ini disertai dengan catatan tentang hal-hal yang teramati selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Secara umum siswa pada siklus I siswa terlihat aktif dan antusias terhadap variasi metode-metode yang diterapkan setiap pertemuan dan Guru sebagai peneliti sudah berusaha menjalankan skenario pembelajaran dengan baik.
Setelah dilakukan tindakan selama siklus I, kemudian dilanjutkan dengan langkah penilaian ulang ( reassessement ) pada akhir siklus yang merupakan langkah terakhir pada perbaikan iklim kelas. Penilaian ulang dilakukan dengan memberikan instrumen modifikasi WIHIC Actual form. Pada akhir siklus juga diberikan kembali instrumen motivasi belajar Fisika siswa dan tes hasil belajar materi elastisitas per dan karet, serta wawancara dengan siswa.

d. Refleksi
Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah membaiknya iklim Kelas XI TR yang ditunjukkan dari Actual climate yang mendekati iklim kelas yang diinginkan siswa. Selain itu keberhasilan penelitian tindakan kelas juga ditunjukkan dengan meningkatnya motivasi belajar siswa tiap siklus.
Berdasarkan analisis terhadap Actual climate siklus I dan membandingkannya dengan Preferred climate, maka terjadi kenaikan pada setiap aspek terutama aspek-aspek yang sebelumnya memiliki perbedaan yang cukup jauh dan telah diberi tindakan. Aspek Aturan dan Organisasi yang sebelumnya memiliki perbedaan yang cukup besar antara iklim kelas yang dialami dan yang diinginkan, kini mengalami kenaikan dan mendekati iklim kelas yang diinginkan.
Kenaikan ini dikarenakan tata tertib yang ditegakkan dengan baik selama siklus I. Penegakan tata tertib ini dilakukan guru dengan pemberian sanksi dan hukuman ( punishment ) kepada siswa yang melanggar tata-tertib pada pertemuan ke-1 dan ke-4 sehingga membuat Kelas XI TR menjadi lebih tertib dan teratur. Tata tertib ini mempunyai beberapa fungsi. ( Cangelosi,1993 ) diantaranya adalah :
1) untuk memaksimalkan perilaku yang baik dan meminimalkan perilaku yang kurang baik.
2) untuk menjamin keamanan dan kenyamanan lingkungan belajar.
3) untuk mencegah aktivitas kelas yang mengganggu kelas lain dan orang lain di luar kelas.
4) untuk memelihara standar norma yang dapat diterima di antara murid.
Sanksi dan hukuman ( punishment ) yang dilakukan oleh guru terhadap siswa-siswa yang sebelumnya sering membuat keributan juga dapat membuat suasana belajar yang lebih tenang. Hal ini terlihat pada pertemuan ke-2 dan ke-3 pada saat pembelajaran Cooperative Learning teknik Think Pair Square dan praktikum, siswa-siswa yang pada pertemuan 1 mendapatkan sanksi dan hukuman bersikap baik selama pembelajaran berlangsung.
Aspek Keterlibatan Siswa mengalami kenaikan mendekati iklim kelas yang diinginkan siswa. Hal ini dipengaruhi oleh model-model pembelajaran yang bervariasi pada tiap pertemuan agar mengupayakan siswa terlibat secara penuh dalam pembelajaran. Pembelajaran itu menggunakan permainan Talking Stick, Cooperative Learning teknik Think Pair Square, praktikum, dan pembelajaran menggunakan pendekatan SaLingTeMas pada kegiatan pengembangan elastisitas per dari baja dan karet.
Talking Stick adalah sebuah permainan dimana Guru menyebarkan pertanyaan dan giliran menjawab pertanyaan secara acak dan berusaha agar semua siswa mendapat giliran secara merata. Hal ini bertujuan untuk melibatkan siswa sebanyak-banyaknya di dalam pembelajaran. ( USMKn, 2005 ). Selain itu permainan ini mempunyai beberapa kelebihan yaitu menguji kesiapan siswa, melatih membaca dan memahami dengan cepat dan agar siswa lebih giat belajar. ( belajar dahulu ). Sedangkan Cooperative Learning merupakan salah satu strategi guru dalam membelajarkan siswa dengan melibatkan mereka dalam kelompok kecil untuk melakukan aktivitas belajar guna meningkatkan interaksi yang positif. ( Hadiyanto, 2004 ).
Dengan melalui pendekatan SaLingTeMas siswa lebih banyak bertanya dan terampil dalam proses belajar,sehingga minat siswa terhadap sains bertambah. ( Rustaman, 2005 ). Dengan kegiatan praktikum, siswa dilatih untuk mengembangkan kemampuan berorganisasi dengan melatih kemampuan mereka dalam mengobservasi dengan cermat, mengukur secara akurat dengan alat ukur yang lebih sederhana atau yang lebih canggih, merancang, melakukan dan menginterpretasikan eksperimen.
Aspek Kekompakan Siswa mengalami kenaikan walaupun masih cukup jauh dari iklim kelas yang diinginkan. Hal ini dikarenakan tindakan yang dilakukan dengan melibatkan siswa dalam kelompok belajar. Kelompok belajar disusun heterogen dengan latar belakang kemampuan kognitif yang diambil dari nilai tes hasil belajar prasiklus, jenis kelamin dan sifat individu yang berbeda. Dengan pembelajaran yang melibatkan kelompok belajar dapat meningkatkan hubungan kebersamaan antar siswa di Kelas XI TR. Dalam kebersamaan itu setiap siswa merasa bersatu dengan teman-teman sekelasnya sehingga berkembang sikap solidaritas yang tinggi antara anak yang satu dengan anak yang lainnya.
Pembelajaran yang dilakukan dengan melibatkan kelompok belajar diantaranya pembelajaran menggunakan Cooperative Learning model Think Pair Square. Cooperative Learning bertujuan untuk membina pembelajar dalam mengembangkan nilai dan kiat bekerja sama dan berinteraksi dengan pembelajar lainnya. ( Lie, 2002 ). Think Pair Square merupakan salah satu teknik belajar dari pembelajaran kooperatif di mana siswa diberi kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan siswa lainnya dalam kelompok, dengan menggunakan teknik ini siswa diharapkan dapat berpartisipasi secara optimal dalam kelompoknya. ( Lie, 2002 ). Selain pada Cooperative Learning, pembelajaran secara berkelompok juga terdapat pada praktikum dan pembelajaran menggunakan pendekatan SaLingTeMas pada kegiatan pengembangan elastisitas per baja dan karet.
Namun kelompok belajar yang terbentuk tidak sepenuhnya efektif. Karena pada pertemuan ke-3 kelompok praktikum yang digunakan masih sama dengan kelompok belajar pada saat pembelajaran dengan Cooperative Learning teknik Think Pair Square pada pertemuan ke-2. Begitu juga dengan pertemuan ke-4, kelompok kecil yang digunakan adalah kelompok teman sebangku yang sudah saling mengenal sejak awal.
Jika dibandingkan antara hasil Actual climate prasiklus dan siklus I maka telah terjadi peningkatan, artinya iklim Kelas XI TR telah membaik. Hal ini mengindikasikan bahwa tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki iklim kelas selama siklus I dapat dikatakan berhasil. ( Hadiyanto, 2004 ). Perubahan iklim kelas yang membaik juga dirasakan oleh siswa, hal ini terlihat dari data hasil wawancara siswa yang dilakukan pada akhir siklus. Hal ini didukung pula dari hasil observasi terhadap pembelajaran selama siklus 1, iklim Kelas XI TR lebih baik dan terlihat dari suasana yang lebih tenang dan siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.
Peningkatan iklim kelas juga terlihat dari perubahan pembelajaran yang dilakukan oleh guru ( lampiran 13 ). Dalam pelaksanaannya guru berupaya untuk menjalankan tindakan dan skenario pembelajaran dengan baik sehingga dapat membawa perubahan pada iklim Kelas XI TR dan meningkatkan motivasi belajar Fisika siswa.
Berdasarkan analisis terhadap motivasi belajar siswa siklus I dapat diketahui bahwa hasil skor rata-rata motivasi belajar Fisika siswa jika dibandingkan dengan prasiklus mengalami kenaikan 3,49% dari 71,52% pada prasiklus menjadi 75,01% pada siklus I dan berkategori cukup. Kenaikan ini menandakan bahwa motivasi belajar Fisika siswa Kelas XI TR mengalami peningkatan. Peningkatan ini diikuti dengan peningkatan pencapaian SKBM pada siklus I. Berdasarkan hasil tes hasil belajar siklus I siswa yang mencapai SKBM meningkat 33,3% dari 46,7% pada prasiklus menjadi 80% pada siklus I. Meningkatnya motivasi belajar siswa juga terlihat dari hasil observasi motivasi belajar siswa di dalam kelas yang dilakukan melalui pengamatan pada tiap pertemuan oleh peneliti. ( Lampiran 14 ).
Hal ini didukung pula oleh wawancara akhir siklus yang dilakukan terhadap siswa (Lampiran 16). Dalam wawancara yang dilakukan dengan 10 orang siswa, ternyata siswa termotivasi dengan model pembelajaran Fisika yang bervariasi pada materi elastisitas. Penggunaan metode mengajar yang bervariasi dapat menggairahkan peserta didik. ( Djamarah dan Zain,2002 ). Selain itu siswa juga termotivasi oleh iklim kelas yang mengalami perubahan menjadi lebih tenang.
Setelah diadakan refleksi, maka keberhasilan dan kekurangan pada siklus I adalah sebagai berikut :
1) Keberhasilan siklus I :
(a) Terciptanya tata tertib di dalam Kelas XI TR pada pelajaran Fisika yang membuat iklim kelas lebih baik dan tertib. Guru menjalankan dengan baik fungsinya sebagai penegak peraturan, terbukti dengan adanya sanksi yang diberikan terhadap siswa yang melanggar tata tertib. ( Lampiran 11 ). Melakukan tindakan kuratif untuk menghentikan pelanggaran terhadap tata tertib dengan pemberian hukuman. ( Rustaman, 2005 ). Frekuensi kesalahan diharapkan lebih diperkecil setelah siswa diberi sanksi berupa hukuman. ( Djamarah, 2002 ). Hukuman ( punishment ) adalah salah satu cara untuk meningkatkan motivasi. ( Child, 1991 ). Penegakan hukuman ( punishment ) yang diikuti oleh perilaku baik dapat menjadi motivasi ekstrinsik bagi siswa sehingga mengajarkan siswa untuk menghindari perilaku yang kurang baik. ( Cangelosi,1993 ). Dengan ditegakkannya tata tertib, siswa menjadi lebih fokus untuk belajar sehingga motivasi belajar siswa meningkat.
(b) Terciptanya kelompok belajar. Dalam belajar kelompok siswa dapat belajar berinteraksi secara positif dengan temannya dan saling membantu dalam belajar, dengan demikian motivasi belajar siswa meningkat.
(c) Siswa menjadi lebih aktif, hal ini dikarenakan siswa lebih terlibat secara aktif dalam pembelajaran dan termotivasi oleh reward yang diberikan. Reward yang diberikan pada siklus ini diantaranya adalah berupa piagam penghargaan yang disertai hadiah yang diberikan pada pertemuan ke-5 bagi siswa terbaik dan kelompok terbaik. Pemberian reward adalah salah satu cara dalam meningkatkan motivasi siswa. ( Child, 1991 ). Ketika perilaku yang baik diberikan penguatan positif dengan cara pemberian reward, hal ini akan merupakan motivasi ekstrinsik yang diharapkan siswa akan mengulangi perilaku baik tersebut. ( Cangelosi, 1993 ).
Dengan cara itu anak didik akan termotivasi untuk belajar guna mempertahankan prestasi belajar yang mereka capai dan tidak menutup kemungkinan akan mendorong anak didik lainnya untuk berkompetisi dalam belajar. ( Djamarah dan Zain, 2002 ).
(d) Nilai tes hasil belajar siswa yang meningkat. Hal ini dikarenakan motivasi siswa yang meningkat pada siklus I dan mengakibatkan siswa menjadi lebih bersemangat dalam belajar Fisika sehingga meningkatkan rata-rata nilai tes hasil belajar siswa pada materi elastisitas baja dan karet.
2) Kekurangan siklus I :
(a) Aspek kekompakan masih memiliki perbedaan yang cukup besar antara iklim kelas yang dialami dan diinginkan siswa. Hal ini berarti Kelas XI TR masih belum kompak sesuai yang diinginkan siswa Kelas XI TR. Kelompok belajar yang sudah terbentuk digunakan pada dua pertemuan ( pertemuan 2 dan 3 ) sehingga membuat siswa merasa monoton dalam berinteraksi dengan teman satu kelompok.
(b) Terdapat 12 siswa atau 26,67% yang memiliki motivasi belajar menurun. Selain itu peningkatan persentase rata-rata motivasi belajar Fisika siswa masih tergolong cukup.
3) Saran dan perbaikan untuk siklus selanjutnya :
(a) Pembelajaran dengan kelompok belajar lebih diaktifkan dengan anggota yang berbeda serta heterogen agar siswa lebih termotivasi untuk mengenal teman-temannya lebih dekat sehingga tercipta Kelas XI TR yang lebih kompak.
(b) Guru diharapkan lebih memotivasi siswa dalam pembelajaran terutama dengan melakukan pendekatan pada siswa yang motivasinya menurun selama siklus I.
Jika dilihat dari indikator keberhasilan penelitian, maka penelitian tindakan kelas dengan melakukan perbaikan iklim kelas dapat meningkatkan motivasi belajar siswa Kelas XI TR pada siklus I. Walau demikian penelitian ini juga masih belum sempurna, karena masih ada 1 aspek yang belum sesuai dengan keinginan siswa dan peningkatan motivasi belajar Fisika siswa yang terjadi pada siklus I masih berkategori cukup. Oleh karena itu diperlukan siklus ke-II untuk melihat peningkatan motivasi belajar Fisika siswa menjadi baik.

2. Siklus II
a. Perencanaan
Setelah dilakukan langkah diskusi dan refleksi yang merupakan langkah ke-3 perbaikan iklim kelas siklus II, didapat bahwa aspek kekompakan siswa belum sesuai dengan keinginan siswa. Oleh karena itu diperlukan tindakan perbaikan untuk memperbaiki aspek ini. Guru sebagai peneliti kemudian sepakat untuk memperbaiki aspek kekompakan siswa menjadi seperti yang diinginkan oleh siswa tanpa mengabaikan aspek-aspek yang lain. Tindakan yang dilakukan adalah :
1) Melaksanakan skenario pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya dengan lebih mengaktifkan lagi kelompok-kelompok belajar. Kelompok-kelompok belajar yang dibentuk lebih heterogen dan berbeda pada setiap pertemuan, sehingga siswa lebih termotivasi dalam belajar dan dapat mengenal dengan baik siswa yang lain. Kelompok belajar tersebut terdapat pada kegiatan Praktikum ( pertemuan 2 ), Cooperative Learning teknik Think Pair Square ( pertemuan 3 ), dan diskusi ( pertemuan 4 ). Siklus II dilakukan pada materi Impuls dan momentum dengan 4 pertemuan.
2) Pemberian motivasi ekstrinsik melalui pujian, penguatan ( reinforcement ) kepada siswa, terutama siswa yang pada siklus I menurun motivasinya.
Tindakan-tindakan tersebut terlaksana sesuai dengan rencana pada siklus II.

b. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini guru melaksanakan skenario pembelajaran dan tindakan yang telah dirancang, yang merupakan langkah ke-4 perbaikan iklim kelas yaitu intervention atau campur tangan perbaikan. Pertemuan pertama berlangsung 90 menit, sebelum memulai pelajaran guru membacakan kembali tata tertib yang telah diberlakukan selama siklus I. Guru kemudian memotivasi siswa selama 10 menit dengan cara memberikan nasihat tentang pentingnya belajar dan persatuan di dalam kelas. Hal ini dilakukan guru untuk mengingatkan siswa kembali tentang peranannya sebagai seorang pelajar. Semua siswa mendengarkan dengan baik nasihat yang diberikan oleh guru. Selanjutnya guru memulai pembelajaran dengan terlebih dahulu memberikan pertanyaan mengenai perbedaan antara Impuls dan Momentum. Kemudian guru menjelaskan materi mengenai impuls dan momentum dengan menggunakan charta dan peta konsep. Setelah selesai dengan penjelasan materi dilakukan pembelajaran dengan metode peta konsep. Peta konsep membantu siswa untuk memahami konsep-konsep awal mengenai impuls dan momentum sehingga untuk pertemuan-pertemuan selanjutnya siswa lebih mengerti mengenai elastisitas.
Kesempatan ini digunakan oleh guru untuk berkeliling dalam membimbing dan membantu siswa yang mengalami kesulitan ( terutama siswa yang mengalami penurunan motivasi ) sehingga terjalin hubungan interaksi yang baik antara siswa dengan guru. Dalam membimbing dan membantu siswa guru juga sering memberikan penguatan ( reinforcement ).
Pertemuan ke-2 dilakukan pembelajaran dengan praktikum yang berlangsung 80 menit. Pada praktikum ini siswa mengamati dan membedakan impuls dan momentum. Pengamatan dilakukan oleh siswa secara berkelompok, kelompok ini adalah kelompok heterogen yang berbeda dengan kelompok praktikum pada siklus I. Setiap siswa mendapatkan Lembar Kerja Siswa yang harus diisi. Setelah selesai, guru dan siswa membahas Lembar Kerja Siswa.
Pada pertemuan ke-3 pembelajaran dilakukan dengan menggunakan pendekatan Cooperative Learning teknik Think Pair Square. Berbeda dengan sebelumnya ( pertemuan 2 siklus1 ) kali ini pembelajaran menggunakan Cooperative Learning model TPS dilakukan dalam waktu 60 menit dikarenakan bulan Ramadhan. Pada pembelajaran ini siswa berkelompok ( 1 kelompok 4 siswa ). Kelompok ini adalah kelompok heterogen yang berbeda dengan kelompok praktikum pada pertemuan ke-2 siklus I. Dalam teknik Think Pair Square siswa mengikuti tiap tahapan, tahapan tersebut adalah tahap thinking (siswa belajar sendiri mengenai perbedaan mengenai impuls dan momentum, tahap pairing ( siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi ), tahap square ( kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat untuk mendiskusikan dan mengerjakan Lembar kerja tanpa melihat buku ). Tiga kelompok yang tercepat dalam mengumpulkan Lembar Kerja akan mendapatkan poin 5, reward ini diberikan agar siswa termotivasi dalam bekerja. Setelah selesai siswa diminta mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas. Kemudian Guru dan siswa membahas jawaban yang benar dari pertanyaan-pertanyaan dalam Lembar Kerja. Kelompok yang terbaik mendapatkan pujian dari guru Fisika.
Pertemuan ke-4 berlangsung 90 menit. Pembelajaran dilakukan pada materi pokok impuls dan momentum dengan metode diskusi kelompok. Pada pertemuan ke-2 siswa telah dibagi dalam 6 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 7-8 siswa untuk membuat alat peraga mengenai impuls dan momentum yang akan didiskusikan pada pertemuan ke-4. Sebelum diskusi dimulai terlebih dahulu guru memberikan penjelasan mengenai hokum kekekalan momentum, siswa kemudian mengemukakan pendapatnya. Diskusi kemudian dimulai dengan presentasi kelompok 1 mengenai impuls, kemudian diadakan Tanya jawab dan diskusi oleh peserta diskusi. Setelah kelompok 1 selesai maka dilanjutkan dengan kelompok ke-2 begitu seterusnya sampai kelompok ke-6.
Dalam diskusi berlangsung guru bertindak sebagai fasilitator, guru juga sering memberikan penguatan ( reinforcement ) dan motivasi kepada peserta diskusi untuk terlibat secara aktif dalam diskusi. Masing-masing kelompok saling menilai kelompok lain yang melakukan presentasi. Selanjutnya peserta terbaik dan kelompok terbaik mendapatkan penghargaan yang akan diberikan pada pertemuan selanjutnya.

c. Observasi dan Evaluasi
Tahap observasi dilakukan selama siklus II berlangsung. Guru melaksanakan tindakan, dan sekaligus sebagai peneliti yang mengamati jalannya skenario pembelajaran dan tindakan perbaikan yang dilakukan. Dalam tahap ini peneliti mengobservasi jalannya tindakan yang dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan format observasi mengajar guru, sedangkan observasi motivasi belajar Fisika siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan format observasi motivasi belajar siswa di kelas untuk tiap pertemuan. Hal ini disertai dengan catatan tentang hal-hal yang teramati selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
Secara umum pada siklus II siswa terlihat lebih aktif dalam kelompok belajarnya pada tiap pertemuan. Pada siklus II guru juga sering memberikan motivasi ekstrinsik berupa penguatan dan penghargaan.
Setelah dilakukan tindakan selama siklus II, kemudian dilanjutkan dengan langkah penilaian ulang ( reassessement ) pada akhir siklus yang merupakan langkah terakhir pada perbaikan iklim kelas. Penilaian ulang dilakukan dengan memberikan instrumen modifikasi WIHIC Actual form. Pada akhir siklus juga diberikan kembali instrumen motivasi belajar Fisika siswa dan tes hasil belajar materi Impuls dan Momentum, serta wawancara dengan siswa.

d. Refleksi
Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah membaiknya iklim Kelas XI TR yang ditunjukkan dari Actual climate yang mendekati iklim kelas yang diinginkan siswa. Selain itu keberhasilan penelitian tindakan kelas juga ditunjukkan dengan meningkatnya motivasi belajar siswa tiap siklus.
Analisis data yang dilakukan terhadap Actual climate siklus II dengan Preferred climate, aspek kekompakan siswa yang lebih mendapat prioritas pada siklus II mengalami kenaikan mendekati iklim kelas yang diinginkan siswa Kelas XI TR. Aspek-aspek lainnya ( Keterlibatan Siswa, Aturan dan Organisasi, Dukungan Guru dan Kerjasama ) juga mengalami kenaikan, aspek Arahan Tugas dari Guru dan Kesetaraan telah melebihi iklim kelas yang diinginkan siswa. Sedangkan aspek Penyelidikan Siswa mengalami penurunan dan aspek Dukungan Guru tetap seperti siklus I.
Aspek Kekompakan Siswa yang diprioritaskan pada siklus II ini mengalami kenaikan, artinya Kelas XI TR lebih kompak dari siklus I dan mendekati iklim kelas yang diinginkan siswa. Dengan demikian tindakan perbaikan yang dilakukan dengan cara melibatkan siswa dalam belajar kelompok dengan anggota yang berbeda pada tiap pertemuan dapat memperbaiki aspek kekompakan siswa. Kelompok belajar tersebut terdapat pada kegiatan Praktikum ( pertemuan 2 ), Cooperative Learning teknik Think Pair Square ( pertemuan 3 ), dan diskusi ( pertemuan 4 ). Dalam kegiatan diskusi pada pertemuan ke-4 siswa telibat dalam kelompok belajar dengan anggota 7-8 tiap kelompok. Kelompok ini sebelumnya telah bekerjasama untuk membuat display mengenai salah satu sistem impuls dan momentum dan mempresentasikannya serta mendiskusikannya dengan kelompok lain pada pertemuan ke-4. Kelebihan metode diskusi adalah merangsang keberanian dan kreatifitas siswa dalam mengemukakan gagasan dengan teman-teman. ( Rustaman, 2005 ). Tujuan dari mengajar dengan teknik diskusi :
1) dapat mempertinggi partisipasi sisiwa secara individu.
2) memberi kemungkinan untuk saling mengemukakan pendapat.
3) memberi kemungkinan kepada siwa untuk belajar berpartisipasi dalam pembicaraan untuk memecahkan suatu masalah bersama sehingga semua siswa aktif dan terlibat dalam proses belajar. ( Roestiyah , 2001 ).

Metode-metode tersebut dapat menjadikan siswa mengenal dengan baik setiap teman-temannya dan menjadikan Kelas XI TR menjadi kompak. Hal ini didukung oleh hasil wawancara ( lampiran 16 ) dengan siswa yang menyebutkan bahwa pada siklus II siswa Kelas XI TR lebih kompak.
Penurunan yang terjadi pada aspek kegiatan penyelidikan siswa, dikarenakan pada siklus II tidak terdapat tindakan yang dilakukan untuk memaksimalkan penyelidikan siswa pada pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan penyelidikan hanya terdapat pada pertemuan ke-2 yaitu pada model pembelajaran Praktikum.
Berdasarkan analisis hasil Actual climate dari pra siklus, siklus I dan siklus II, terjadi kenaikan pada tiap siklus. Hal ini menandakan bahwa iklim kelas XI TR telah sesuai dengan iklim kelas yang diinginkan siswa. Pernyataan ini didukung pula oleh hasil wawancara siswa pada akhir siklus II, siswa dan guru merasakan perubahan iklim kelas yang lebih baik dan nyaman untuk belajar. ( Lampiran 16 ). Diantara pernyataan siswa dan guru mengenai iklim Kelas XI TR selama siklus II adalah :
(a) Suasana belajar di Kelas XI TR sudah menyenangkan.
(b) Siswa menjadi termotivasi dalam belajar Fisika di Kelas XI TR.
(c) Tidak ada lagi siswa yang membuat keributan ketika belajar Fisika di dalam kelas
(d) Siswa sudah terbiasa dengan model pembelajaran yang bervariasi.
(e) Siswa semakin mengenal teman-temannya di dalam kelas.
(f) Interaksi yang terjadi antara guru dan siswa semakin baik dan siswa menjadi lebih dekat dengan guru Fisika.
(g) Siswa semakin menyukai pelajaran Fisika.

Walau iklim Kelas XI TR telah mendekati iklim kelas yang diinginkan siswa, tetapi terdapat aspek kegiatan penyelidikan siswa yang menurun dan aspek-aspek lain yang belum mencapai ataupun melebihi preferred climate. Dikarenakan keterbatasan waktu dikarenakan waktu tidak dilakukan siklus berikutnya untuk memperbaiki aspek-aspek yang menurun dan belum mencapai atau melebihi preferred climate. Karena pada dasarnya untuk melakukan perbaikan iklim kelas memerlukan waktu yang tidak sebentar.
Analisis yang dilakukan terhadap motivasi belajar siswa siklus II, diketahui bahwa skor rata-rata motivasi belajar Fisika siswa mengalami kenaikan 1,84% dari 75,01% pada siklus I menjadi 76,85% pada siklus II dan berkategori baik. Hal ini mengindikasikan bahwa tindakan perbaikan iklim kelas yang dilakukan dapat meningkatkan motivasi belajar Fisika siswa. Kenaikan yang terlihat dari hasil instrumen motivasi belajar siswa didukung pula melalui observasi motivasi siswa dalam pembelajaran yang dilakukan melalui pengamatan di dalam kelas pada tiap pertemuan terjadi peningkatan rata-rata persentase motivasi belajar siswa dari 71,13% pada siklus I menjadi 88,46% pada siklus II ( Lampiran 14 ). Selain itu didukung pula oleh hasil wawancara siswa akhir siklus. ( Lampiran 16 ) yang menyatakan bahwa pada siklus II siswa semakin termotivasi untuk belajar Fisika.
Setelah diadakan refleksi dan melihat kesesuaian hasil dengan indikator keberhasilan penelitian, maka tindakan yang dilaksanakan pada siklus II telah meningkatkan motivasi belajar Fisika siswa. Keberhasilan pada siklus II ini didukung oleh dua faktor yaitu :
1) Guru Fisika
Berdasarkan data yang diperoleh melalui lembar observasi mengajar guru. ( Lampiran 13 ). Dalam pelaksanaan tindakan guru berupaya untuk melaksanakan skenario pembelajaran dengan lebih baik dari siklus I, sehingga dapat membawa perubahan pada iklim Kelas XI TR dan meningkatkan motivasi belajar Fisika siswa. Selain itu selama siklus II berlangsung guru sering memotivasi siswa dengan lebih banyak memberi penguatan ( reinforcement ) pada tiap pertemuan, pemberian penghargaan ( reward ) untuk siswa dan kelompok terbaik pada pertemuan ke-3 dan ke-4. Pada pertemuan pertama guru Fisika juga memberikan nasihat mengenai pentingnya persatuan di dalam kelas dan pentingnya belajar. Selain itu guru Fisika juga membimbing seluruh siswa dalam belajar sehingga tercipta interaksi yang baik antara guru dan siswa. Bimbingan ini bukan hanya kepada siswa yang membutuhkan saja melainkan kepada seluruh siswa. Hal ini menunjukkan bahwa guru tidak pilih kasih sehingga setiap siswa mendapat perhatian yang sama.
2) Siswa
Siswa merespon dengan baik setiap tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki iklim Kelas XI TR. Dari hasil observasi, hal ini terlihat dari terlibatnya siswa secara aktif selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Siswa sudah berani mengemukakan pendapat pada saat diskusi. Interaksi antar siswa maupun interaksi antara guru dan siswa mengalami peningkatan yang berarti, Hal ini mendukung terciptanya iklim kelas yang lebih baik dan mendukung kegiatan pembelajaran sehingga meningkatkan motivasi belajar Fisika siswa.
Penelitian tindakan kelas ini bertujuan memperbaiki iklim kelas untuk meningkatkan motivasi belajar Fisika siswa. Mengingat motivasi merupakan motor penggerak dalam perbuatan, maka bila ada siswa yang kurang memiliki motivasi intrinsik, diperlukan dorongan dari luar yaitu motivasi ekstrinsik ( Djamarah, 2002 ). Memperbaiki iklim kelas adalah salah satu cara dalam memberikan motivasi ekstrinsik kepada siswa. Motivasi ekstrinsik dapat meningkatkan motivasi intrinsik. ( Prayitno, 1989 ). Hal ini telah dibuktikan dalam penelitian ini, dimana melalui perbaikan iklim kelas yang dilakukan selama tiga bulan dapat meningkatkan motivasi belajar Fisika siswa. Hal ini terlihat dari peningkatan persentase motivasi berdasarkan instrumen motivasi belajar siswa ( Gambar 3 ) yang semula pada pra siklus adalah 71,52% yang berkategori cukup mengalami peningkatan 3,49% pada siklus I yaitu 75,01% dan meningkat 1,84% pada siklus II menjadi 76,85% baik ( Arikunto.1998 ). Peningkatan motivasi juga diikuti dengan peningkatan SKBM siswa yang naik sebesar 8,89% dari siklus I 80% menjadi 88,89% pada siklus II.
Walau demikian peningkatan motivasi belajar Fisika siswa yang terjadi pada siklus II tidak sebesar pada siklus I. Hal ini dikarenakan tindakan yang dilakukan tidak terlalu banyak perubahan jika dibandingkan siklus I, artinya siswa sudah terbiasa dengan model-model pembelajaran yang diterapkan pada siklus II. Selain itu pelaksanaan siklus II bersamaan dengan bulan Ramadhan, pada bulan ini satu jam pelajaran yang semula 45 menit disesuaikan menjadi 30 menit. Pada awal bulan Ramadhan siswa diliburkan selama 1 minggu, hal ini menjadikan siklus II terpotong waktu libur dan mempengaruhi kondisi fisik dan phiskis siswa sehingga tindakan yang dilakukan tidak optimal. Tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan aspek kekompakan juga dipengaruhi oleh situasi ini. Ketika siswa dilibatkan dalam kelompok belajar pada pertemuan 2,3 dan 4 masih belum membuat siswa Kelas XI TR lebih kompak seperti yang diinginkan. Hal ini dikarenakan pada belajar kelompok siklus II waktu siswa lebih sedikit untuk saling mengenal lebih dekat satu sama lain, selebihnya siswa hanya belajar berkelompok dengan tujuan untuk mengerjakan tugas.
Pada siklus II masih terdapat siswa yang motivasinya menurun ( Lampiran 9 ). Setelah ditelusuri bahwa siswa dengan motivasi menurun adalah siswa yang tidak siap dengan perubahan pembelajaran yang semula teacher center sebelum penelitian dilakukan menjadi student center. Siswa-siswa ini mempunyai kepribadian yang pasif dan pendiam. Artinya mereka lebih menyukai pembelajaran Fisika yang pasif dan tidak banyak melibatkan siswa. Dalam hal ini perbaikan iklim kelas yang merupakan cara untuk memberikan motivasi ekstrinsik tidak berpengaruh banyak pada mereka. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh yang menjelaskan bahwa tingkah laku dipengaruhi oleh kepribadian dan faktor eksternal. ( Murray, 1938 dalam Fraser dan Walberg, 1991 ).
Faktor eksternal dapat mendukung atau menghalangi tingkah laku seseorang dalam mencapai tujuan, dalam hal ini iklim kelas adalah faktor eksternal yang kurang mendukung siswa-siswa tersebut untuk mencapai tujuan. Artinya iklim Kelas XI TR yang diberi perbaikan tidak sesuai dengan kepribadian mereka. Keadaan ini mempengaruhi tingkah laku mereka dan membuat motivasi mereka untuk mencapai tujuan menurun. Oleh karena itu keberhasilan pemberian motivasi ekstrinsik akan lebih baik jika didukung pula oleh motivasi instrinsik yang datang dari dalam siswa itu sendiri.

C. KETERBATASAN PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas yang berjudul “ Peningkatan Motivasi Belajar Bidang Studi Fisika Siswa melalui Perbaikan Iklim Kelas ” ini hanya melihat pengaruh dari perbaikan iklim kelas terhadap motivasi belajar Fisika siswa dengan memperhatikan aspek-aspek antara lain hasil belajar dan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Hal ini karena penelitian memiliki keterbatasan antara lain waktu penelitian, sehingga tidak memungkinkan untuk melihat faktor-faktor lain yang mempengaruhi hasil penelitian.

BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Dalam Perbaikan iklim kelas yang dilakukan terhadap Kelas XI TR Semester III di SMK Negeri 7 Jakarta dalam dua siklus, melalui tindakan-tindakan berupa pembuatan tata tertib, melaksanakan pembelajaran dengan metode bervariasi, melibatkan siswa belajar berkelompok dan pemberian motivasi ekstrinsik berupa penghargaan. ( reward ) serta penguatan ( reinforcement ). Tindakan-tindakan tersebut dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dari pra siklus ke siklus I dan dari siklus I ke siklus II masing-masing sebesar 3.49% dan 1.84% dengan keriteria dari cukup ke baik.

B. IMPLIKASI
Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa perbaikan iklim kelas dapat meningkatkan motivasi belajar Fisika siswa. Dengan demikian model perbaikan iklim kelas ini dapat digunakan sebagai alternatif dalam memecahkan masalah motivasi belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran Fisika.
C. SARAN
1. Agar mendapatkan hasil yang lebih baik dalam memperbaiki iklim kelas, sebaiknya guru bidang studi Fisika bekerja sama dengan wali kelas beserta guru bidang studi yang lain atau serumpun pada kelas yang diberi tindakan agar tercipta iklim kelas yang lebih kondusif dalam kegiatan pembelajaran siswa.
2. Peran Guru agar lebih ditingkatkan untuk menerapkan Penelitian Tindakan Kelas dalam memperbaiki masalah-masalah di kelas.
3. Pelaksanaan penelitian mengenai perbaikan iklim kelas perlu dikembangkan, oleh karena itu sebaiknya penelitian ini dapat diterapkan oleh guru dan kepala sekolah beserta staf, agar tercipta iklim pembelajaran yang lebih baik bagi siswa dan guru.

DAFTAR PUSTAKA

Ainurrahman. 1998. " Usaha Guru Menciptakan Iklim Kelas yang Serasi bagi Terwujudnya Kegiatan Belajar Mengajar yang Optimal Melalui Perlibatan Murid dalam Pengaturan Fisik Kelas dan Penanganan Gangguan Disiplin Kelas ". Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar. No.5. Tahun ke-2.

Anonim. 2001. " Pedoman Tekhnis Pelaksanaan Classroom Action Research ". Buletin Pelangi Pendidikan. No.2. Vol.4.

Arikunto, Suharsimi.1998.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.

Cangelosi, James S.1993. Clasroom Management Strategies. Gaining and Maintaining Students Cooperation.New York: Longman

Child, Dennis.1991. Psychology and The Teacher, Fourth Edition. London : Cassel Educational.

Direktorat Pendidikan Menengah dan Umum.2003. Kurikulum 2004 SMK. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran SMK.Jakarta : Depdiknas.

Djamarah, Syaiful Bahri .2002.Psikologi Belajar.Jakarta : PT. Rineka Cipta

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain.2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Rineka Cipta

Fisher, Darrel.1990.The Assesment & Change of Classroom and School Environment. Launceston : TaSMKnian State Institute of Technology.

Fraser, B.J and Walberg H.J.1991. Educational Environment ( Evaluation, Antecendents and Consequences ).London : Pergammon Press

Hadiyanto. 2000. Iklim Kelas dan Sekolah (Teori, Riset, dan Aplikasinya di Sekolah). Padang : Universitas Negeri Padang.

Hadiyanto.2001. " Implementasi Learning Environment Inventory dalam Penelitian Perbaikan Pembelajaran ". Buletin Pembelajaran. No. 03. Tahun ke-24.

Hadiyanto,2004. Mencari Sosok Desentralisasi Manajemen Pendidikan di Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.

Hammersley,Martyn.2002. Educational Research. Current Issue. London : The Open University.

Kurikulum KTSP Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 7 Jakarta, 2006. Dinas Dikmenti Jakarta.

Lie,Anita.2002.Cooperative Learning: Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas.Jakarta : PT.Grasindo

Mahmud, M. Dimyati.1990. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Terapan. Yogyakarta : BPFE

Makmun,Syamsudin Abin.1996.Psikologi Pendidikan Perangkat Sistem Pengajaran Modul.Bandung : PT.Rosda Karya

Margianti, Sri Eko. 2001. Learning Environment Mathematics Achievement and Student Attitudes among University Computing Student In Indonesia.Thesis Sceince and Mathematics Education Centre. Thesis : Curtin University of Technology. Australia.
http://adt.curtin.edu.au/theses/availableadt.wcu20021024.095526/unrestricted/09appendixcz/pdf. Diakses 03 Mei 2006 pukul 11.00

Purwanto, Ngalim M.1992.Psikologi Pendidikan.Bandung : PT Remaja Rosda Karya.

Prayitno,Elida.1989.Motivasi dalam Belajar Mengajar. Jakarta : Depdikbud

Rustaman, Nuryani.2005.Strategi Belajar Mengajar Fisika.Malang : UNM

Roestiyah, NK. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Siagian,SP.1995. Teori Motivasi dan Aplikasi.Jakarta : Rineka Cipta

Soemoenar. 1991." Pengembangan Suatu Tehknik untuk Mengukur Iklim Emosi-Emosi di Dalam Kelas ". Laporan Hasil Penelitian Jurusan Matematika FPMIPA Lembaga Penelitian IKIP Jakarta.

Sudjana, Nana. 2004. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosda Karya.

Sutjipto, dkk.2002.” Perbaikan Proses Belajar Mengajar di Sekolah Dasar ”. Hasil Penelitian. Lembaga Penelitian UNJ.

Syah, Muhibbin. 1997.Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

USMKn, Uzer Moh. 1994. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT Remaja Rosda Karya.

Wahyudi. 2003. " Penyusunan dan Validasi Kuwesioner Iklim Lingkungan Pembelajaran di Kelas ". Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. No. 043. Tahun ke-9.

Winataputra,dkk.2000.Strategi Belajar Mengajar.Jakarta : Rineka Cipta
Wiraatmadja, Rochiati.2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas untuk Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. PT Remaja Rosda Karya

Yamin, Martinis. 2004. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta : Gaung Persada Press.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

November 2017
S S R K J S M
« Okt    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Acara Akan Datang

Tak ada acara mendatang

Kategori

Kategori

Blog Stats

  • 234,208 hits
%d blogger menyukai ini: